Hening. Hanya suara nafas memburu keduanya yang terdengar. Cafe bernuansa hitam putih itu sudah lama kosong. Pemilik cafe sejak tadi ingin memberitahu bahwa mereka sudah tutup. Namun diskusi yang memanas itu sayang untuk diputus begitu saja.
Plot yang begitu kencang tiba-tiba di cut off. Sampai pada bagian ini pembaca seperti di suguhi drama pendek di tiktok. Benturan dengan peran patrilineal yang sudah relative usang – Dalam lingkungan keluarga atau sosial tertentu, apakah “pemaksaan“ saran untuk peran perempuan dalam kehidupan pribadinya, masih relevan. Karier yang mungkin saja cerah, bisa jadi justru dianggap melelahkan, jika tidak ditemukan kesesuaiam dengan passionnya.
Memang pada banyak kehidupan keluarga seringkali dijumpai konflik akibat cara berkomunikasi interelasi yang kurang baik.
Pada cerpen kedua ini, boleh dikata kurang informatif. Tidak ditemukan berapa usia masing-masing pasangan itu, sudah berapa lama menikah, prihal apa yang mendesak untuk perlu menerima pekerjaan yang ditawarkan, sepertinya substansi pemicu konflik yang setengah panas itu masih perlu diolah hingga mencapai taraf mengejutkan, hingga matang benar.
Lalu cerpen ketiga; “Sarung halaman“ 16
Simak snapshot berikut;
Giliranku tiba. Tak ada lagi antrian. Aku menjadi orang terakhir dari lekuk barisan yang sejak beberapa jam lalu mengular. Lelaki berseragam itu tersenyum. Entah prihatin. Entah mengejek. Aku tak sanggup membalas senyumnya. Hatiku sudah terlanjur kecewa melihat meja yang kosong di depan lelaki tersebut.
“Maaf, Bu. Habis,” katanya berat. Aku mengangguk lemah, menyeret langkahku kembali ke rumah.
“Tunggu, Bu.” Suara seseorang dari arah lorong. Seorang perempuan berpenampilan mewah berjalan terburu-buru ke arahku.
Aku menghentikan langkah. “Ibu jangan kecewa. Ini ada sedikit uang bisa untuk membeli sarung.” Ibu dermawan itu mengangsurkan tiga lembar uang merah ke tangan keriputku. Aku tersenyum. Kujabat tangannya erat sambil mengucapkan beribu terima kasih.
Cerita ini,menyusup diantara 13 lainnya. Sub temanya: Money politic.
“………….Namun aku tidak suka perlakuan lelaki itu terhadap kami, dua perempuan yang tiba-tiba saja menjadi tak berdaya.” ( Halaman 20 – 21 )
Money politic. Permainan iming-iming, tipu daya yang lazim terjadi di ajang kontestasi politik. Dan sebagaimana biasa warga, rakyat kecil menjadi bidak mainannya. Dengan tiga lembar uang merah dan selembar sarung dijadikan pukat pengumpul suara.
Sayang endingnya ini kurang menyentak perasaan, simak penggalan kalimat ini; “Perempuan yang kukira dermawan itu mengambilnya kembali sebelum pergi. Bunyi krek membuatku tersentak. Sobekan di sarung bertambah lagi.“
Haru biru perasaan yang diharapkan menyentak, menjadi sangat cair. Sangat biasa. Padahal ada sisi yang menarik misalnya dengan membuat kontradiksi yang lebih menarik, andai yang diserahkan itu sembako yang dapat dikonsumsi sehari dua, maka ketika gagal memperolehnya maka akan menyebabkannya sang wanita dan anaknya yang masih kecil dan piatu “wajib puasa“
Sebagaimana dua cerpen terdahulu dan beberapa cerpen lainnya, penulis masih kurang menggarap pendalaman karakter tokoh secara lebih detil. Termasuk dalam pengenalan setting, penajaman terbilang sangat minim. Ini mungkin juga siasat, untuk menembus media mainstream tertentu, karena secara sepihak diberlakukan batas panjang tulisan hanya memperbolehkan 358 karakter. Atau siasat sasaran segmen pembaca?
Tiga cerpen tadi, sepertinya hanya bisa menjadi sampel dari sensasi yang coba saya adop, bagaimana secara umum. Dengan hadirnya PYMRB sesungguhnya memperlihatkan bahwa ada upaya serius si penulis untuk mengangkat tema perempuan.












