Hari Ayah; Perayaan yang Tidak Menyediakan Kursi

Oleh: Rika Arlianti DM

Pagi itu halaman sekolah lebih ramai dari biasanya. Beberapa anak berjalan sambil menggenggam tangan ayah mereka—ada yang tertawa, ada yang terlihat canggung, ada pula yang bangga memperkenalkan ayahnya pada guru.

Andi berjalan paling belakang. Langkahnya pelan, seragamnya rapi, tapi matanya tidak setenang hari-hari lain. Ia berhenti sejenak di depan gerbang sekolah. Dari kejauhan, aku melihatnya menarik napas panjang, seperti seseorang yang hendak menyelam ke air yang dingin.

Aku berjalan ke kelas sambil menenteng tas berisi rapor. Di papan tulis sudah tertulis rapi, “Selamat Hari Ayah”.

Tak berselang lama, ruang kelas itu penuh. Kursi-kursi terisi oleh para ayah—suara berat, tawa singkat, batuk yang tertahan. Ruang yang biasanya milik anak-anak, pagi itu berubah menjadi ruang yang memilih.

Aku menyebut satu per satu nama murid. Setiap nama diikuti langkah seorang ayah ke depan kelas. Setiap langkah seperti penegasan, inilah keluarga yang diakui hari ini.

Lalu sampai pada satu nama …

BACA JUGA:  MATA PUISI

“Andi.”

Tidak ada langkah. Tidak ada suara kursi bergeser. Aku melihatnya duduk di bangku paling belakang. Tangannya saling menggenggam, matanya kembali berkaca-kaca. Ia menatap lantai, seolah berharap namanya tidak pernah disebut.

Seorang ayah berbisik pada ayah lain, “Anaknya yang tidak ada ayahnya, ya?” Kalimat itu jatuh begitu saja. Dan kami—orang dewasa—membiarkannya jatuh.

Aku ingin berkata bahwa sekolah seharusnya aman. Bahwa pendidikan tidak boleh melukai. Tapi pagi itu, aku berdiri sebagai bagian dari sistem yang lupa bertanya, siapa yang tidak kami undang?

Dengan langkah berat, Andi akhirnya memberanikan diri ke depan.

“Aku boleh pulang saja, Bu?” bisiknya padaku. Kalimat itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat dada terasa sesak.

Belum sempat aku menjawab, pintu kelas terbuka pelan. Seorang perempuan masuk. Wajahnya lelah tapi terjaga. Langkahnya sederhana, pakaiannya biasa. Tidak ada sorot bangga yang berlebihan. Tapi dari caranya berjalan, terlihat jelas kalau ia sudah terlalu sering menjadi segalanya.

Ibunya Andi. Perempuan yang bangun paling pagi dan pulang paling malam. Perempuan yang menjadi ibu sekaligus ayah, tanpa pernah menyebut dirinya demikian. Tulang punggung yang tidak pernah minta dipuji.

BACA JUGA:  Janji Tiga Bulan, Tuntas Setelah Setahun: Kisah di Balik Lahirnya Buku "ALL IN, Saat Nurani Menjadi Undangan"

“Apa saya boleh masuk, Bu?” tanyanya.

“Ayahnya tidak bisa hadir?” Seseorang bertanya, terlalu jujur untuk disebut peduli.

Ia tersenyum tipis. “Saya yang ambil rapornya.”

Aku menyerahkan rapor itu. Tangannya menerimanya dengan mantap. Tangan yang jelas lebih sering bekerja daripada bertepuk tangan di acara sekolah.

“Terima kasih sudah datang,” kataku. Kalimat yang terasa terlalu kecil.

Andi menatapku. “Aku tidak salah, kan, Bu?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu bukan soal rapor, tapi tentang keberadaannya.

Aku ingin menjawab sebagai guru. Tapi yang keluar adalah suara seorang dewasa yang menyesal.

“Tidak, Andi. Kamu tidak salah,” kataku sambil melempar senyum.

Ruang kelas itu sunyi sesaat. Dalam sunyi itu aku sadar, kami terlalu sibuk merayakan peran ayah sampai lupa memastikan bahwa tidak semua anak lahir dengan cerita yang lengkap.

Sekolah sering mengajarkan keadilan lewat buku pelajaran. Tapi pagi itu, kami mengajarkan sebaliknya—bahwa kebijakan bisa terasa seperti hukuman bagi anak yang hidupnya tidak direstui semesta.

Seorang ayah di kursi tengah setengah berbisik kepada anaknya—mungkin tanpa maksud apa-apa.

BACA JUGA:  LAPAKKSS akan Gulirkan Temu Budaya Akhir Tahun 2024, Tonton Keseruannya!

“Kasihan ya, tidak ditemani ayahnya.”

Ibu Andi tersenyum tipis, “Tidak apa-apa,” katanya pelan.

“Kami sudah terbiasa,” lanjutnya.

Kalimat itu bukan tanda menyerah, tapi tanda bertahan.