EXPA Luncurkan Buku Perdana “‘Ruang Belajar Menjadi Manusia'” Antologi Kisah Perjalanan Pecinta Alam

Prof. Wahyu Wibowo (Sastrawan, Penyair, serta Guru Besar dan Pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional) dalam tanggapannya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap hadirnya buku EXPA.

Prof.Wahyu Wibowo mengulas dari sisi filosofis dan post-truth.

Hadir sebagai salah satu peserta bedah buku, Don Hasman, jurnalis dan fotografer terkemuka -yang juga anggota kehormatan MAPALA UI- ikut menyampaikan apresiasi.

“Saya bangga diundang dan bersyukur bahwa ternyata SMAN 8 para pegiat di alamnya itu mampu membuat terobosan yang sangat istimewa dan tekun secara konsisten sampai bisa menerbitkan buku. Semua pengalaman mereka yang mereka lakukan selama di Puapala itu dibukukan. Sepengetahuan saya, ini buku pertama yang diterbitkan oleh komunitas pencinta alam sebuah sekolah (SMA). Mudah-mudahan bisa menjadi pegangan para pegiat di alam lainnya. Buku ini ditulis oleh orang-orang hebat,” ujar Don usai acara bedah buku ruang belajar menjadi manusia.

Salah satu anggota Federasi Mountaineering Indonesia DKI Jakarta, Umar Freudo, juga turut hadir dan memberikan apresiasi kepada para penulis.

BACA JUGA:  Forum Sastra Kepulauan, Ram Prapanca Antar Diskusi "Menghangat"

“Buku ini bagus banget karena memang enggak banyak yang bicara buku tentang mountaineering, pendakian dikaitkan dengan pengembangan karakter. Alam itu ruang belajar paling jujur. Alam itu ruang Prabahasa, tempat kita belajar sebelum sempat dibentuk oleh kata-kata orang lain. Pantai itu menyenangkan, gunung itu menenangkan. Nah, buku ini saya lihat arahnya ke situ. Judulnya Ruang Belajar Menjadi Manusia, artinya manusia itu belajar mencari ketenangan dengan tenang dia bisa berpikir jernih, berprilaku dengan baik. Temen-temen wajib baca, beli, karena buku-buku ini berbeda dari yang pernah saya baca,” kata Umar.

Sementara Darius Krisdanu (Ketua EXPA) berharap buku ini bukan sekedar menjadi arsip perjalanan EXPA, tapi sekaligus sumber pengetahuan dan inspirasi bagi para pencinta alam lintas generasi.

Sebuah dokumentasi yang merekam bagaimana alam menjadi guru sekaligus ruang belajar menjadi manusia.

Nilai serta pengalaman, sebagai pencinta alam berpengaruh terhadap proses pembentukan karakter yang berkembang dalam komunitas pecinta alam SMAN 8 Jakarta, yang setelah lulus dari bangku sekolah tetap memiliki keterikatan dan kepedulian dengan alam.(***)

BACA JUGA:  Nona Ambon, Makassar, dan Lagu Anging Mammiri

Kontributor : Lasman Simanjuntak