Dibuka untuk Umum! Teater Kepahlawanan Ayam Jantan dari Timur akan Dipentaskan

Di masa kecil, ia mendapat pendidikan keagamaan di Masjid Bontoala. Ia rajin melakukan latihan ketangkasan seperti sepak raga, pencak silat, permainan tombak.

Ia sering diajak ayahnya untuk menghadiri pertemuan penting dengan harapan ia bisa menyerap ilmu diplomasi dan strategi perang. Karena itulah, selain dikenal sebagai sosok yang cerdas, ia juga pandai berdagang dan ahli strategi perang sehingga disegani.

Saat memasuki usia 21 tahun, ia diamanatkan jabatan urusan pertahanan Gowa. Karena keberaniannya, ia dijuluki ”De Haantjes van Het Osten” oleh Belanda yang artinya ”Ayam Jantan dari Timur”.

Sultan Hasanuddin tak henti berjuang melawan tipu muslihat VOC yang penuh siasat dan adu domba untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Segala keinginan angkara murka VOC ditolaknya. Karena penolakan itu, VOC yang dipimpin Cornelis Speelman memaklumkan perang kepada Gowa. Maka pada tahun 1660, VOC menyerang Gowa, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Tahun 1667, VOC kembali menyerang Gowa.

Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak dan makin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

BACA JUGA:  Riri Satria : Baca Puisi di Ruang Publik Terbuka Telah Membawa Karya Literasi Sastra kepada Masyarakat Luas

Setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya, sebagian besar panglima kerajaan Gowa secara terang-terangan mengajukan protesnya kepada Sultan Hasanuddin. Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi.

Pertempuran kembali pecah pada tahun 1669 yang dikenal sebagai Perang Makassar. VOC Belanda berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669.

Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

Babak pertama, setelah narasi dinyanyikan, ditampilkan adegan semacam flashback yang menyimbolkan kehidupan Sultan Hasanuddin dan para Karaeng serta pasukannya di masa kecil dan remaja belajar keagamaan di Masjid Bontoala. Setelah itu, ditampilkan adegan latihan ketangkasan seperti pencak silat, sepak raga, latihan tombak dan balira. Lalu dilanjutkan dengan adegan perdagangan rempah-rempah di pelabuhan Sombaopu/Makassar.
Babak kedua menampilkan adegan Sultan Hasanuddin dan para Karaeng berjuang melawan tipu muslihat VOC yang penuh siasat dan adu domba untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Segala keinginan angkara murka VOC ditolaknya.

BACA JUGA:  The Last Pepadu Karya Agus K Saputra Menarik Perhatian Kongso Sukoco

VOC yang dipimpin Cornelis Speelman memaklumkan perang kepada Gowa. Pasukan Gowa yang disimbolkan dengan pasukan tombak dan pasukan balira terjun ke medan perang.

Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak dan makin lemah sehingga Gowa mengalami kekalahan.

Babak ketiga menampilkan adegan yang dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya.

Sebagian besar panglima kerajaan Gowa secara terang-terangan mengajukan protesnya kepada Sultan Hasanuddin. Mereka merasa belum kalah dan siap untuk perang. Mereka menunggu titah Sultan Hasanuddin.

Pada akhir adegan, secara simbolik ditampilkan adegan Sultan Hasanuddin dikelilingi pasukan gendang yang memainkan gendang pakkanjara (Genderang Perang Mangkassara).

Sultan Hasanuddin hanya diam, tafakkur, berputar pelan, moksa, hening, sebagai jawaban yang paling fasih, lebih keras daripada kata-kata, sebagai sumber kekuatan yang besar, sebagai senajata kekuatan pamungkas.

Menurut sutradara, pertunjukan ini mengandung pesan agar generasi muda dapat menghargai perjuangan kepahlawanan Sultan Hasanuddin sebagai warisan berharga. Karena perjuangannya yang penuh tantangan, ketekunan, keberanian, dan kerja keras dapat menginspirasi untuk dapat mempertahankan identitas, budaya, tradisi dan nilai-nilai sejarah, budaya, dan pendidikan.