Berdasarkan penekan prinsip tersebut pula maka dengan tegas Sultan Hasanuddin berkata: Sekali lagi saya katakan, segala keinginan angkara murka Tuan, kami tolak. Tuan silakan pergi dari sini.
“Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan bumi dan lautan. Bumi telah dibagi-bagikan di antara manusia, begitu pula lautan telah diberikan untuk umum. Tidak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jikalau Tuan, kalian VOC dan Belanda melarang hal itu, maka itu berarti bahwa kalian seperti mengambil nasi dari mulut orang lain,” timpal Sultan Hasanuddin.

Penolakan itu membuat Cornelis Speelman – Gubernur Jenderal Belanda di Batavia murka, hingga segera memaklumkan perang kepada Gowa.
“Siapkan bendera merah! Siapkan meriam-meriam, arahkan larasnya ke Benteng Somba Opu!” teriak Cornelis Speelman dengan geram. Abharam Sterck ( Anjas Wirabuana ) dan De Vries ( Zein ), dua orang Kapitan segera mempersiapkan perang.
Pasukan Gowa tak gentar, bersenjatakan tombak dan pasukan balira siap terjun ke medan laga menyongsong sang agresor. Karaeng Galesong ( Djamal Dilaga ), Karaeng Karunrung ( Indra Kirana ), Karaeng Bonto Marannu ( Djamal Kalam ), Daeng Mangalle ( Arga Batara ) dan I Fatimah Daengta Kontu ( Mirza ) – putri tunggal Sultan Hasanuddin, dan I Daeng Talele, gadis bangsawan dari Sanrobone, sepakat, sedia berdiri paling depan di medan laga.
Pertempuran hidup mati lalu berlangsung seru di mana-mana, meski hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak hingga kian lemah dan memaksanya datang ke meja perundingan.
Babak ketiga menampilkan adegan Sultan Hasanuddin ( Ferdinan ) dengan sangat terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya yang menjadi penanda mulai redupnya puncak kejayaan Kesultanan Makassar. Isi perjanjian tersebut di antaranya:
Makassar harus mengakui monopoli VOC
Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja
Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan
Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC
Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam
Sebagian besar petinggi Kesultanan Gowa secara terang-terangan menolak dengan tegas, bahkan mengajukan protes kepada Sultan.
Mereka merasa belum kalah dan mengaku tidak akan pernah kalah. Mereka tetap siap melanjutkan perang dengan pengorbanan jiwa dan raga sekali pun. Meski tetap akan patuh dan setia menunggu titah Sultan Hasanuddin.
“Sesungguhnya karena kesabaran, rakyatku bersedia memberikan apa yang mereka inginkan dalam Perjanjian Bongaya melalui Aku. Tapi mereka -kompeni ya menghendaki jantungku, hatiku, ini penghinaan atas martabat manusia,“ ujar lirih Sultan Hasanuddin dengan perasaan hati yang cedera.
Pada segmen akhir adegan, secara simbolik ditampilkan Sultan Hasanuddin yang hanya diam, tafakkur, berputar pelan di atas tahtanya.
Dalam konteks teatrikal, para aktor tak lagi berbicara dengan kata-kata, tak lagi gerah bergerak, menahan ekspresi amarah, hingga menjelang akhir babak. Pasukan dengan kegeraman yang simbolis, melampiaskan emosinya melalui tabuhan ganrang pakkanjara – Genderang penyemangat perang bagi orang Mangkasara.
Di mana sesungguhnya mereka sedang ikut menyembunyikan rahasia terdalam pada diri masing-masing, misteri yang tak sanggup mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Lalu meletup suara anggaru yang bergemuruh menggema dari dalam dada para tubaranina Gowa :
Tabe, Sombangku!
Inakke Ata … Karaeng
Kipammopporang mama’
Ridallekang labbiritta
Riempoang matinggita
Risa’ri karatuanta












