Religi  

Terlahir Kembali Setiap Hari

Istigfar seharusnya menjadi bagian dari kebiasaan hidup. Ketika bangun tidur, kita memohon agar hari yang baru menjadi hari yang penuh keberkahan. Ketika menjalani aktivitas, kita menjaga lisan dan perbuatan. Ketika melakukan kesalahan, kita segera memohon ampun. Dan ketika malam tiba, kita melakukan introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan sepanjang hari.

Dengan demikian, setiap hari menjadi ruang evaluasi sekaligus ruang pertobatan.

Kita tidak pernah tahu apakah masih akan diberikan kesempatan untuk menyambut matahari esok pagi. Karena itu, jangan menunda pertobatan. Jangan menunggu menjadi tua untuk mulai mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu yang selama ini kita miliki.

 

*Jangan Menunggu Ramadhan untuk Membersihkan Hati*

Ramadhan memang merupakan bulan istimewa. Bulan ketika umat Islam dilatih menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Demikian pula Hari Raya Idulfitri yang menjadi momentum kebahagiaan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Banyak orang memaknainya sebagai saat kembali kepada kesucian setelah menjalani proses penyucian diri.

BACA JUGA:  KITA Palestina Launching Kurikulum Al Maqdisiyah

Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan: apakah membersihkan hati harus menunggu Ramadhan? Apakah memohon ampun kepada Allah harus menunggu malam Lailatulqadar? Apakah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia harus menunggu Hari Raya Idulfitri?

Tentu tidak.

Ramadhan adalah momentum penguatan, bukan satu-satunya waktu untuk bertobat. Idulfitri adalah momentum kemenangan, bukan alasan untuk baru memulai kehidupan yang bersih.

Jangan sampai kita begitu bersemangat membersihkan hati selama Ramadhan, tetapi kembali mengotorinya setelah Ramadhan berlalu. Jangan sampai kita merasa telah terlahir kembali pada Hari Raya, tetapi setelah itu kembali mengulangi kebiasaan buruk yang sama.

Seharusnya semangat Ramadhan kita bawa ke sebelas bulan berikutnya. Semangat memohon ampun, menjaga lisan, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbanyak amal kebaikan harus menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, Allah tidak hanya menjadi tempat kita kembali pada bulan Ramadhan. Allah adalah tempat kita kembali setiap saat.

 

*Hidup adalah Kesempatan yang Tidak Boleh Disia-siakan*

Ada satu kenyataan yang tidak pernah bisa kita hindari: kematian.

BACA JUGA:  125 Da’i Muda Ikuti Sekolah Tabligh Muhammadiyah Sulsel

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan tiba. Ada orang yang masih memiliki banyak rencana, tetapi ternyata tidak sempat menyelesaikan satu pun. Ada yang tidur dengan harapan menyambut pagi, tetapi ternyata tidak pernah lagi membuka mata. Ada pula yang merasa masih memiliki waktu panjang, padahal perjalanan hidupnya sudah mendekati akhir.

Karena itu, kehidupan seharusnya tidak diukur hanya dari panjangnya usia, tetapi dari seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita lakukan selama hidup.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 agar setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, yaitu kehidupan akhirat.

Ayat ini mengajarkan pentingnya evaluasi diri. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan hari ini? Apakah ada orang yang tersakiti oleh ucapan saya? Apakah ada amanah yang belum saya tunaikan? Apakah ibadah saya sudah lebih baik? Apakah hari ini saya lebih dekat kepada Allah dibandingkan kemarin?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal perubahan besar.

BACA JUGA:  Petunjuk Mandi Sunah Ramadhan

Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang luar biasa. Mulailah dari hal-hal kecil: memperbaiki salat, memperbanyak sedekah, meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti, mengurangi keluhan, menjauhi prasangka buruk, dan membiasakan diri mengucapkan istigfar.