Al-Sanusiah, berfokus pada reformasi puritan, kebangkitan ilmu pengetahuan Islam, dan pembangunan komunitas, serta memainkan peran penting dalam lanskap sosial-politik dan keagamaan. Dan, Al-Idrisyah penekanannya pada pengalaman spiritual langsung, ketergantungan pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta metode zikir yang unik.
Tarekat tarekat ini termasuk berafiliasi dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, atau JATMAN. JATMAN, selain turut berperan dalam melestarikan kekayaan budaya dan spiritual bangsa, tidak juga hanya mendidik akal melalui kajian-kajian keislaman, tetapi melalui praktik-praktik spiritual, serta tindakan melalui penananaman akhlak. Ini membentuk manusia seutuhnya (insan kamil) yang seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
Dalam pandangan modern, JATMAN bukanlah relik masa lalu yang usang, melainkan sebuah institusi yang menyimpan harta karun spiritualitas dan kearifan yang sangat dibutuhkan di era ini. Ia menawarkan peta jalan bagi mereka yang mencari makna hidup, ketenangan batin, dan panduan moral di tengah kompleksitas dunia.
Sejarah JATMAN di Sulawesi Selatan adalah cerminan dari vitalitas ajaran tasawuf yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dengan peran sentral para mursyid dan ulama kharismatik, JATMAN telah berhasil menjadi mercusuar spiritual yang membimbing umat menuju kedekatan dengan Tuhan, sekaligus menjadi penjabat tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. (din pattisahusiwa)












