Berdasarkan kebutuhan mitra, guru-guru MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kepulauan Selayar masih memerlukan penguatan dalam memaknai sikap bahasa sebagai bagian integral dari pembelajaran.
“Selama ini, pembelajaran Bahasa Indonesia lebih sering berfokus pada aspek keterampilan berbahasa dan pemenuhan target kurikuler, sementara pembinaan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia dan kesantunan berbahasa belum selalu diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan dan praktik pembelajaran. Akibatnya, nilai-nilai kebahasaan yang sesungguhnya penting bagi pembentukan karakter siswa belum sepenuhnya hadir secara eksplisit dalam kegiatan belajar mengajar, “ujar Prof.Munira Hasjim
Pada bagian lain penjelasannya, Munira Hasjim menyebutkan, mengacu pada analisis situasi, permasalahan prioritas mitra, khususnya guru-guru Bahasa Indonesia yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar, dapat dirumuskan dalam beberapa poin penting yang memerlukan perhatian serius. Dalam konteks ini, pemahaman yang mendalam tentang sikap bahasa dan kesantunan berbahasa menjadi sangat krusial. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada kualitas pembelajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa dalam berkomunikasi.
Pemahaman yang kuat mengenai konsep-konsep ini akan memungkinkan guru untuk mengajarkan siswa bagaimana menggunakan bahasa dengan baik dan benar, serta menghargai norma-norma kesantunan yang berlaku dalam masyarakat.
Pertama, masih perlunya penguatan pemahaman guru MGMP tentang konsep sikap bahasa dan kesantunan berbahasa serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Sikap bahasa mencakup cara pandang dan nilai-nilai yang dipegang oleh individu dalam menggunakan bahasa.
Misalnya, seorang guru yang memahami pentingnya kesantunan berbahasa akan lebih mampu mengajarkan siswa untuk berkomunikasi dengan cara yang menghormati lawan bicara. Dalam konteks ini, guru perlu diberikan pelatihan yang mendalam mengenai bagaimana sikap bahasa dan kesantunan berbahasa dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum. Hal ini mencakup pemahaman tentang ragam bahasa yang sesuai dengan situasi, penggunaan bahasa yang tepat dalam konteks formal dan informal, serta pentingnya etika berbahasa dalam interaksi sosial.
Kedua, masih terbatasnya kemampuan guru dalam mengintegrasikan sikap bahasa dan kesantunan berbahasa ke dalam tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen pembelajaran Bahasa Indonesia. Pengintegrasian ini sangat penting untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar bahasa dari segi tata bahasa dan kosakata, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan bahasa tersebut dalam konteks yang tepat. Contohnya, dalam mengajarkan materi tentang teks debat, guru dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan siswa tentang bagaimana berargumentasi dengan sopan dan menghargai pendapat orang lain. Namun, tanpa adanya pemahaman yang kuat dari guru tentang bagaimana melakukan hal ini, pembelajaran yang diharapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, diperlukan workshop atau seminar yang fokus pada pengembangan keterampilan guru dalam mengintegrasikan sikap dan kesantunan berbahasa ini ke dalam setiap aspek pembelajaran.













