Seminar Nasional PGRI Lutim: Prof Hasnawi Sebut Guru Harus Miliki Growth Mindset

NusantaraInsight, Sorowako — Guru di era digital dituntut tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki pola pikir berkembang atau growth mindset agar mampu menjawab tantangan transformasi pendidikan.

Hal itu disampaikan Ketua PGRI Sulawesi Selatan, Prof Dr H Hasnawi Haris, M.hum saat menjadi pemateri dalam Seminar Nasional PGRI Luwu Timur di Gedung Matano Player, Sorowako, Kecamatan Nuha, Rabu (6/5/2026).

paSeminar nasional ini dihadiri tiga ratusan peserta dari para guru yang berasal dari wilayah Luwu Timur dan sekitarnya. Tampil pemateri utama, Ketua Umum PB PGRI, Prof Dr Arifah Rosyidi, M.Pd dengan moderator, Ketua PGRI Luwu Timur pada masanya, Nursalam, S.Pd, M.Pd/.

Pada materinya bertajuk “Guru Berkarakter Growth Mindset dalam Transformasi Pendidikan di Era Disrupsi”, Prof Hasnawi menegaskan kualitas guru menjadi faktor paling menentukan dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.

Ia mengutip hasil riset John Hattie yang menunjukkan kontribusi guru terhadap kualitas peserta didik mencapai 30 persen, lebih tinggi dibanding pengaruh sekolah, orang tua, maupun teman sebaya.

BACA JUGA:  Di Hadapan Ratusan Guru, Prof Unifah ‘Spill’ Kelebihan Bupati Luwu Timur

“Guru harus terus belajar dan terbuka terhadap perubahan. Guru tidak boleh merasa kemampuan itu tetap, tetapi harus yakin bahwa kompetensi bisa berkembang melalui usaha dan pembelajaran,” ujarnya.

Menurutnya, guru dengan growth mindset akan lebih mudah menerima kritik, melakukan inovasi, serta mampu membangun lingkungan belajar yang positif bagi siswa.

Dalam pemaparannya, Hasnawi juga menyinggung hasil riset Kusumawardhani tahun 2017 yang menyebut belum ada bukti kuat bahwa sertifikasi guru secara langsung berdampak signifikan terhadap hasil belajar siswa maupun kinerja guru.

Selain itu, ia mengulas hasil asesmen internasional PISA oleh OECD yang menunjukkan kemampuan literasi membaca, sains, dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.

“Maknanya, pelajar kita masih kurang kompeten menghadapi tantangan masa depan. Karena itu transformasi pendidikan menjadi kebutuhan mendesak,” katanya.

Prof Hasnawi menjelaskan, revolusi digital telah mengubah cara belajar, mengajar, dan mengakses informasi sehingga pendidikan tidak lagi bisa menggunakan paradigma lama yang bersifat satu arah.

Ia menilai sistem pendidikan saat ini harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan keterampilan abad ke-21, termasuk penguasaan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).