Hastuti Guru SLBN 1 Pinrang, Raih Emas Pertama untuk PGRI Pinrang di Porsenijar PGRI Sulsel di Sidrap 

Sidrap, NusantaraInsight — Bagi Hastuti, S.Pd., Gr., kemenangan dalam Lomba Inovasi Pembelajaran Digital jenjang SLB pada ajang Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026 bukan sekadar soal medali emas.

Guru SLBN 1 Pinrang itu memaknai penghargaan tersebut sebagai pengingat bahwa setiap usaha kecil yang dilakukan dengan tulus untuk anak-anak berkebutuhan khusus selalu memiliki arti besar.

“Penghargaan ini bukan hanya tentang sebuah prestasi, tetapi juga menjadi bukti bahwa setiap upaya yang dilakukan dengan ketulusan untuk memberikan pembelajaran terbaik bagi anak-anak berkebutuhan khusus akan selalu memiliki makna,” kata Hastuti.

Pada ajang Porsenijar PGRI Sulsel 2026 di Kabupaten Sidrap, Hastuti tampil sebagai juara pertama Lomba Inovasi Pembelajaran Digital jenjang SLB. Ia membawa nama PGRI Kabupaten Pinrang dan mempersembahkan medali emas dari cabang pembelajaran.

Namun, di balik panggung lomba, karya yang dibawa Hastuti sesungguhnya lahir dari ruang kelas. Dari perjumpaan sehari-hari dengan murid-muridnya di sekolah luar biasa.

Sebagai guru SLB, Hastuti memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada murid yang cepat menangkap materi melalui gambar, ada yang lebih mudah memahami melalui suara, gerak, warna, atau permainan sederhana.

BACA JUGA:  PGRI Pangkep Kerahkan 200 Mobil ke Porsenijar 2026 di Sidrap, Target Masuk Tiga Besar

Pengalaman itulah yang mendorongnya mengembangkan media pembelajaran digital. Media itu dibuat bukan semata untuk lomba, melainkan untuk menjawab kebutuhan nyata murid di kelas.

“Media pembelajaran digital yang saya kembangkan lahir dari kebutuhan nyata di kelas, khususnya untuk membantu murid belajar dengan lebih mudah, lebih menarik, dan lebih bermakna,” ujarnya.

Bagi Hastuti, teknologi tidak pernah dimaknai sebagai pengganti guru. Teknologi justru menjadi jembatan agar guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih inklusif, kreatif, dan sesuai kebutuhan peserta didik.

Ia percaya, anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan ruang belajar yang memberi mereka kesempatan untuk percaya diri. Mereka tidak hanya perlu memahami materi, tetapi juga perlu merasa mampu, dihargai, dan diterima dalam proses belajar.

Karena itu, kemenangan di Porsenijar PGRI Sulsel 2026 ia persembahkan untuk murid-muridnya.

“Kemenangan ini saya persembahkan untuk seluruh murid saya, rekan-rekan guru yang selalu memberikan dukungan, serta keluarga yang senantiasa menjadi penyemangat dalam setiap proses,” katanya.

Hastuti lahir di Labuange, 16 September 1990. Ia menamatkan pendidikan di SMKN 1 Parepare pada tahun 2009, kemudian melanjutkan studi S1 di Universitas Muhammadiyah Parepare dan selesai pada tahun 2013.

BACA JUGA:  PGRI Sulsel Hadiri Rapat Konsolidasi dengan BBGTK Sulsel

Saat ini, Hastuti sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Parepare pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Sejak tahun 2015, ia mengabdikan diri sebagai guru di SLBN 1 Pinrang. Hampir satu dekade mengajar di sekolah luar biasa membuatnya semakin memahami bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kesabaran, kreativitas, dan ketulusan.

Setiap hari, Hastuti berhadapan dengan murid-murid yang memiliki karakter, kebutuhan, dan potensi berbeda. Dari sanalah ia belajar bahwa guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga harus mampu membaca kebutuhan murid, memahami keterbatasan mereka, dan menemukan cara terbaik agar mereka tetap dapat tumbuh.

Bagi Hastuti, anak-anak berkebutuhan khusus bukan anak-anak yang tidak mampu. Mereka hanya membutuhkan cara belajar yang tepat, lingkungan yang mendukung, serta guru yang sabar mendampingi.

Karena itu, ia berharap media pembelajaran digital yang dikembangkannya tidak berhenti sebagai karya lomba. Ia ingin media tersebut terus digunakan, disempurnakan, dan memberi manfaat lebih luas.