Hastuti Guru SLBN 1 Pinrang, Raih Emas Pertama untuk PGRI Pinrang di Porsenijar PGRI Sulsel di Sidrap 

Saat ini, Hastuti sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Parepare pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Sejak tahun 2015, ia mengabdikan diri sebagai guru di SLBN 1 Pinrang. Hampir satu dekade mengajar di sekolah luar biasa membuatnya semakin memahami bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kesabaran, kreativitas, dan ketulusan.

Setiap hari, Hastuti berhadapan dengan murid-murid yang memiliki karakter, kebutuhan, dan potensi berbeda. Dari sanalah ia belajar bahwa guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga harus mampu membaca kebutuhan murid, memahami keterbatasan mereka, dan menemukan cara terbaik agar mereka tetap dapat tumbuh.

Bagi Hastuti, anak-anak berkebutuhan khusus bukan anak-anak yang tidak mampu. Mereka hanya membutuhkan cara belajar yang tepat, lingkungan yang mendukung, serta guru yang sabar mendampingi.

Karena itu, ia berharap media pembelajaran digital yang dikembangkannya tidak berhenti sebagai karya lomba. Ia ingin media tersebut terus digunakan, disempurnakan, dan memberi manfaat lebih luas.

“Saya ingin media ini terus digunakan, disempurnakan, dan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi murid-murid saya maupun bagi guru-guru SLB lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA:  Atlet Cabang Ikrar Guru PGRI Gowa Syahrianti Iskandar Saat Cuci Piring juga Latihan

Hastuti juga berharap inovasi kecil yang ia lakukan dapat menginspirasi lebih banyak pendidik, khususnya guru SLB, untuk terus berkarya.

Menurutnya, guru tidak harus selalu memulai dari sesuatu yang besar. Inovasi bisa lahir dari masalah sederhana di kelas, dari kesulitan murid memahami materi, atau dari keinginan guru agar pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan anak.

“Semoga inovasi kecil yang saya lakukan dapat menginspirasi lebih banyak pendidik untuk terus berkarya dan menghadirkan pembelajaran yang berpihak kepada murid,” katanya.

Bagi Hastuti, medali emas bukan garis akhir. Justru setelah penghargaan itu diraih, ada tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Ia ingin murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. Ia ingin mereka yakin bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memiliki cita-cita.

“Saya berharap suatu hari nanti murid-murid saya tidak hanya mengingat media yang mereka gunakan untuk belajar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan yakin bahwa mereka mampu meraih cita-cita setinggi apa pun,” ujarnya.

BACA JUGA:  Tim Futsal PGRI Luwu Utara Bidik Emas di Porsenijar Sulsel, Futsal Bidik Emas

Di tangan Hastuti, teknologi menjadi lebih dari sekadar perangkat pembelajaran. Ia menjadi jalan kecil untuk membuka ruang harapan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.