“Saya ingin media ini terus digunakan, disempurnakan, dan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi murid-murid saya maupun bagi guru-guru SLB lainnya,” ujarnya.
Hastuti juga berharap inovasi kecil yang ia lakukan dapat menginspirasi lebih banyak pendidik, khususnya guru SLB, untuk terus berkarya.
Menurutnya, guru tidak harus selalu memulai dari sesuatu yang besar. Inovasi bisa lahir dari masalah sederhana di kelas, dari kesulitan murid memahami materi, atau dari keinginan guru agar pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan anak.
“Semoga inovasi kecil yang saya lakukan dapat menginspirasi lebih banyak pendidik untuk terus berkarya dan menghadirkan pembelajaran yang berpihak kepada murid,” katanya.
Bagi Hastuti, medali emas bukan garis akhir. Justru setelah penghargaan itu diraih, ada tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.
Ia ingin murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. Ia ingin mereka yakin bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memiliki cita-cita.
“Saya berharap suatu hari nanti murid-murid saya tidak hanya mengingat media yang mereka gunakan untuk belajar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan yakin bahwa mereka mampu meraih cita-cita setinggi apa pun,” ujarnya.
Di tangan Hastuti, teknologi menjadi lebih dari sekadar perangkat pembelajaran. Ia menjadi jalan kecil untuk membuka ruang harapan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dari kelas SLBN 1 Pinrang, Hastuti menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu lahir dari fasilitas yang besar. Kadang, ia lahir dari hati seorang guru yang tidak pernah berhenti mencari cara agar setiap anak dapat belajar dengan bahagia.












