SMAN 2 Enrekang Manfaatkan Lahan Terbatas untuk Budidaya Sayuran

Enrekang, NusantaraInsight — Keterbatasan lahan dan betonisasi bukan lagi penghalang bagi gerakan bercocok tanam di lingkungan sekolah. SMA Negeri 2 Enrekang membuktikan bahwa lahan sempit di belakang kelas dapat dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya sayuran segar melalui metode polibag, hidroponik, dan pemanfaatan sampah sebagai media tanam.

Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Enrekang, Sukayono, mengatakan lahan belakang kelas yang semula kurang produktif kini berubah menjadi kebun sayur yang menanam mentimun, pare, kacang panjang, dan terong. “Dengan kreativitas dan gotong-royong siswa serta guru, area kecil ini mampu menghasilkan sayuran yang sehat dan berguna untuk kantin serta kegiatan pembelajaran,” ujarnya, Selasa (19/5).

Salah satu teknik yang diandalkan adalah penanaman menggunakan polibag. Menurut guru pembina, metode polibag praktis untuk lokasi terbatas karena memudahkan penataan, pemeliharaan, dan panen secara terukur. “Polibag memungkinkan kontrol media tanam dan pemupukan sehingga hasilnya lebih konsisten meski lahan sempit,” kata guru tersebut.

Selain polibag, sekolah juga menerapkan sistem hidroponik yang memungkinkan kontrol penuh terhadap nutrisi tanaman. Guru pembina menjelaskan beberapa kali panen hidroponik berhasil dilakukan, menghasilkan sayuran berkualitas tinggi dan bebas tanah. Keberhasilan hidroponik ini menunjukkan potensi budidaya tanpa memerlukan lahan luas.

BACA JUGA:  Prof.Dr.dr. Andi Kurnia Bintang, Sp.S (K), M.Kes: Cegah Cacat Stroke Perlu Pendekatan Multimodal yang Terintegrasi

Inovasi lain yang dilakukan adalah pemanfaatan sampah plastik (botol dan gelas bekas) sebagai wadah pembibitan. Sekolah juga mengolah sampah organik menjadi kompos yang kemudian digunakan sebagai bahan media tanam, khususnya pada polibag. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan kemandirian sekolah dalam kebutuhan pupuk.

Sukayono menambahkan program ini bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga pendidikan lingkungan dan keterampilan berwirausaha bagi siswa. “Kami ingin menanamkan nilai keberlanjutan, keterampilan bercocok tanam, dan kesadaran pengelolaan sampah sejak dini,” ujar Sukayono.

Siswa yang terlibat mengaku antusias. Salah seorang siswa mengatakan keterlibatan dalam kebun sekolah memberi pengalaman praktik langsung yang berbeda dari pelajaran teori. Hasil panen sebagian digunakan untuk konsumsi sekolah, sebagian lagi dijual untuk menambah kas kegiatan ekstrakurikuler.

Pengamat pendidikan setempat menyambut baik inisiatif tersebut dan mendorong sekolah lain meniru model serupa untuk mengatasi keterbatasan ruang hijau. Mereka menilai program budidaya di lahan terbatas meningkatkan literasi lingkungan sekaligus menyediakan sumber pangan lokal.