Catatan pertunjukan Teater Kepahlawanan Sultan Hasanuddin: SANG HERO PENJAGA MARTABAT MANUSIA

Sultan Hasanuddin ( Ferdinan )
Sultan Hasanuddin ( Ferdinan )

Cornelis Speelman ( Is Hakim ) dengan pongah menekankan: “Dengar, Tuan-tuan. Kami minta agar seluruh orang Portugis, Spanyol maupun Inggris harus diusir dari wilayah Makassar. Mereka tidak boleh lagi diterima maupun tinggal di Makassar untuk melakukan aktivitas perdagangan.

Jangan lagi diizinkan kapal-kapal mereka memasuki perairan laut dan pelabuhan di sini untuk berdagang. Mereka itu bahaya, Tuan. Bahaya.”
Tetapi, di pihak lain Sultan Hasanuddin dengan dukungan para Karaeng yang bersikap tegas menolak keras keinginan VOC tersebut. Kesultanan Makassar saat pemerintahan Sultan Hasanuddin, menganut prinsip mare liberum atau “kebebasan laut” yang menyatakan bahwa laut adalah wilayah internasional yang terbuka untuk semua orang dan tidak dapat dimiliki oleh satu negara, karena itu adalah karunia Tuhan. Prinsip ini dikemukakan oleh Hugo Grotius, ahli hukum dan filsuf Belanda, dalam buku Mare Liberum yang terbit pada tahun 1609.

Prinsip mare liberum menegaskan beberapa hal, yaitu:
Kebebasan untuk bernavigasi di samudra
Penolakan terhadap peperangan di lautan
Kebebasan tersebut hanya dapat dilanggar oleh perjanjian-perjanjian internasional

BACA JUGA:  Palestina, Aku Datang!

Berdasarkan penekan prinsip tersebut pula maka dengan tegas Sultan Hasanuddin berkata: Sekali lagi saya katakan, segala keinginan angkara murka Tuan, kami tolak. Tuan silakan pergi dari sini.

“Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan bumi dan lautan. Bumi telah dibagi-bagikan di antara manusia, begitu pula lautan telah diberikan untuk umum. Tidak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jikalau Tuan, kalian VOC dan Belanda melarang hal itu, maka itu berarti bahwa kalian seperti mengambil nasi dari mulut orang lain,” timpal Sultan Hasanuddin.

Penolakan itu membuat Cornelis Speelman – Gubernur Jenderal Belanda di Batavia murka, hingga segera memaklumkan perang kepada Gowa.

“Siapkan bendera merah! Siapkan meriam-meriam, arahkan larasnya ke Benteng Somba Opu!” teriak Cornelis Speelman dengan geram. Abharam Sterck ( Anjas Wirabuana ) dan De Vries ( Zein ), dua orang Kapitan segera mempersiapkan perang.

Pasukan Gowa tak gentar, bersenjatakan tombak dan pasukan balira siap terjun ke medan laga menyongsong sang agresor. Karaeng Galesong ( Djamal Dilaga ), Karaeng Karunrung ( Indra Kirana ), Karaeng Bonto Marannu ( Djamal Kalam ), Daeng Mangalle ( Arga Batara ) dan I Fatimah Daengta Kontu ( Mirza ) – putri tunggal Sultan Hasanuddin, dan I Daeng Talele, gadis bangsawan dari Sanrobone, sepakat, sedia berdiri paling depan di medan laga.