Ia menggenggam ujung selendangnya.
Berbisik pelan, agar tak ada yang dengar:
_”Ayah… Ibu… maafkan Wiah ya.
Wiah. rindu. Rindu sekali.”_
Tapi bisikan itu hilang.
Dimakan jarak.
Dimakan waktu.
Dimakan rindu yang tak pernah bisa pulang.
Dan di kampung itu…
Warna merah jingga kembali tersemburat di balik gunung.
Seperti dulu.
Hanya saja…
Tak ada lagi anak gadis Gallarrang yang berlarian di halaman.
—


br
br
br






br
br






br