Pak Guru Ullah datang bersama ayahnya.
Duduk bersila di depan Sang Gallarrang.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan maksudnya.
“Gallarrang… saya datang untuk meminang putri Gallarrang.
Wiah .”
Sang Gallarrang terdiam lama.
“Dia masih terlalu muda. Belum ada tanda-tanda dewasa.”
Tapi Pak Guru Ullah menunduk.
“Saya tak ingin melepaskan kesempatan ini.
Saya tak ingin kehilangan bunga desa.
Saya ingin membahagiakannya.
Saya ingin menjadikannya pendamping hidup saya… selamanya.”
Sang Gallarrang menatap putrinya.
Wiah. hanya menunduk. Diam.
Sebagai gadis yang penurut, ia tak membantah.
Lamaran itu… diterima.
*PERPISAHAN*
Satu bulan persiapan.
Lalu hari pernikahan tiba.
Sederhana.
Tanpa musik. Tanpa elekton.
Yang ada hanya alunan *Rate’* Makassar yang syahdu.
Mengiringi ijab kabul antara guru dan muridnya.
Tangis bahagia.
Tangis gembira.
Tangis sedih.
Karena pernikahan ini berarti perpisahan.
Sebulan kemudian…
Pak Guru Ullah memutuskan pulang ke kampung halamannya.
Membawa serta putri Sang Gallarrang.
Di halaman rumah, suasana pecah.
Sang Gallarrang memeluk erat putri kesayangannya.
Putri pertamanya.
Yang selama ini selalu ia jaga dan kasihi.
Wiah membalas pelukan itu sekuat tenaga.
Ibunya bahkan tak sanggup berkata sepatah kata pun.
Dunianya serasa gelap.
Putri kesayangannya akan pergi ke kampung orang.
Ke tempat yang tak pernah ia lihat.
Tak tahu kapan akan kembali.
Wiah melangkah pergi…
Meninggalkan sungai tempat ia mandi.
Meninggalkan sawah tempat ia kejar-kejaran.
Meninggalkan lomba memetik jagung.
Meninggalkan gula merah di pelepah pisang yang dulu ia hitung satu-satu sesuai cetakannya.
Ia pergi… membawa seribu kenangan.
Kenangan yang tak akan pernah pupus.
Walau waktu terus berjalan.
*RUANG KOSONG DI RUMAH GALLARRANG*.
Malam pertama tanpa Wiah, rumah terasa aneh.
Terlalu sepi.
Sang Gallarrang duduk di beranda.
Tempat biasa Wiah duduk sambil merajut.
Kursinya masih ada.
Tapi yang mengisi… sudah tidak ada.
Ibunya masuk ke kamar.
Membuka lemari.
Baju-baju Wiah. masih tergantung rapi.
Ada baju kebesaran yang dulu dipakai saat acara adat, ada baju yang selalu dipakai saat. main hujan.
Ada selendang yang masih ada wangi melatinya.
Ibu memeluk baju itu.
Menangis tanpa suara.
“Kita yang mengantarkannya pergi…”
bisik Sang Gallarrang dari pintu.
“Sekarang… siapa yang akan kita tunggu pulang?”
Di kampung seberang, Wiah juga menangis.
Dalam rumah orang.
Dengan orang baru.
Ia menatap jendela.
Jauh di sana ada gunung.
Di balik gunung itu… ada sungai.
Ada rumah kayu.
Ada ayah dan ibu yang dulu selalu menunggunya pulang.


br
br
br






br
br






br