Prof. Muh. Hamdar Arraiyyah: Syekh Yusuf Pahlawan Dua Bangsa

Dikemukakan pula bahwa sumber informasi tentang Syekh Yusuf begitu banyak tersedia. Antara lain bisa ditemukan pada manuskrip Hikayat Tuanta Salamaka dalam bahasa Makassar dan terjemahnya dalam bahasa Indonesia. Juga dalam karya yang ditulis oleh Syekh Yusuf sendiri. Selain itu, buku-buku yang ditulis oleh sejarawan, dalam karya sastra seperti novel dan puisi, serta dalam seni tutur Sinrilik. Artikel yang membahas Syekh Yusuf juga begitu banyak, baik dalam versi media cetak, apalagi di platform digital.

“Syekh Yusuf Al-Makassari punya 38 karya tulis (treatises). Beliau menulis dalam bahasa Arab. Sebagain ditulis di tempat pengasingan. Ada di antara karya tulisnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Bugis, dan Makassar,” terang Prof. Hamdar Arraiyyah.

Hasil kajian ilmiah tentang pemikiran Syekh Yusuf masih bermunculan hingga kini. Bukunya dikaji di masjid dan halaqah penganut Tarekat Khalwatiyah.

Beberapa pakar di Indonesia, seperti dari Universitas Indonesia (UI) dan lainnya, kata dia, menerjemahkan sejumlah karya tulis Syekh Yusuf dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Ada juga rangkuman dari bahasa Arab ke bahasa Inggris. Akademisi Muslim di Afrika Selatan, Yousuf Dadoo dan Auwais Rafudeen dari Universitas Afrika Selatan, menerjemahkan 19 karya Syekh Yusuf dari bahasa Arab ke bahasa Inggris, disertai kata pengantar yang dalam.

BACA JUGA:  Hebat!! Siswi SMAN 19 Bulukumba Raih Medali Emas Pencak Silat Nasional Kemenpora Makassar Championship 3

Semangat pembebasan Syekh Yusuf punya cerita jauh. Prof. Hamdar Arraiyyah menyampaikan bahwa pada usia 17 tahun, Syaikh Yusuf menyampaikan usulan kepada Raja Gowa, dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah petinggi kerajaan agar Raja melarang, antara lain, perjudian dan peredaran minuman keras (Makassar: ballo).

Di Afrika Selatan, beliau membebaskan para budak dan tawanan di Cape Town dari buta agama dan buta baca Al-Qur’an. Penguasa Belanda, ketika itu, melarang umat Islam untuk berkumpul dan menunaikan salat Jumat. Sekitar 100 tahun kemudian, baru ada masjid.

“Syekh Yusuf menularkan semangat pembebasan kepada pejuang Afrika Selatan untuk membebaskan bangsanya dari penindasan rezim apartheid,” papar pria kelahiran Soppeng, 27 Oktober 1957 itu.

Pengaruhnya Syekh Yusuf di Afrika Selatan, menurut Prof. Hamdar Arraiyyah yang sering mengangkat tema spiritualitas, nilai-nilai Islam, dan refleksi kehidupan, masih ditemukan hingga kini.

Misalnya, aktivitas zikir bersama secara rutin setiap pekan dilaksanakan di hampir semua masjid di Cape Town. Biasanya dilanjutkan dengan ceramah agama. Ini, kata dia, menjadi salah satu kekuatan kaum Muslimin sana. Buku zikir Ratib al-Haddad banyak digunakan.

BACA JUGA:  Emas Soekarno di Bank Swiss Terungkap !

Syekh Yusuf disebut berjasa dalam menumbuhkan kegiatan keagamaan itu. Tokoh Nelson Mandela, bahkan mendapat inspirasi yang kuat dari semangat perjuangan yang ditunjukkan oleh Syekh Yusuf. Negara Afrika Selatan kemudian memberi penghormatan kepada Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional negara itu, tahun 2005.

“Hanya ada beberapa orang di dunia yang mendapat gelar pahlawan nasional dari dua negara,” imbuh Prof. Hamdar Arraiyyah, yang dalam buku antologi puisi tentang Syekh Yusuf menulis dua puisi, yakni “A Letter from Ceylon” dan “Return to Gowa”.

Mengenai ajaran Syekh Yusuf Al-Makassari, dalam buku an-Nafahah as-Sailaniyyah, menurut Prof. Hamdar Arraiyyah, Syekh Yusuf menguraikan empat istilah yang terkait dengan akhlak.

Pertama, Husnu-l Khuluq (akhlak terpuji kepada sesama makhluk, terutama al-Khalik); kedua, Husnu-l Adab (menunjukkan sopan santun kepada semua orang, terutama al-Khalik. Misalnya, tidak banyak menuntut kepada Allah saat menunaikan kewajiban. Menerima takdir dengan berserah diri). Rasa hormat yang tinggi pada gurunya, penulis buku; ketiga, Husnu-zh Zhan (prasangka yang baik); dan keempat, Husnu-l Khatimah (Ia memohon husnul khatimah pada bagian akhir dari buku an-Nafhah as-Sailaniyyah).