Peluncuran buku ini ‘surprise’ banget buat Nurhayati Rahman karena buku yang diluncurkan, I Lagaligo Jilid IV baru terbit Januari 2025 dan dicetak Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Rencananya usai lebaran, namun “anak-anak” Prof. Nur – panggilan akrabnya – di Prodi Gender pada tahun akademi 2024 ini sangat antusias dan mau meluncurkannya sesegera mungkin. Meskipun Prof. Nur sendiri tidak yakin “anak-anak”-nya itu dalam waktu yang sangat singkat dapat melaksanakannya. Biasanya, kata Prof. Nur, diperlukan waktu tiga bulan untuk mempersiapkannya.
“Kejutan banget buat anak-anak saya yang bisa melaksanakan peluncuran ini dalam waktu yang singkat,” kata Prof. Nur sembari meminta yang hadir bertepuk tangan dalam acara yang diawali dengan sumbangan musik suku “To Ballo” yang menetap di Gunung Pujananting Kabupaten Barru sumbangan dari Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM).
“Kitab Suci”
Nurhayati Rahman diminta mengungkapkan misteri gender di dalam I Lagaligo. Lagaligo, kata Nurhayati Rahman, merupakan “kitab suci”-nya orang Bugis.
Oleh sebab itu, mendiang Prof.Dr.Mattulada tidak ingin Lagaligo disebut sastra. Kapan naskah ini disebut sastra, maka tersinggung penganutnya, termasuk Komunitas Tolotang di Sidrap yang untuk menyebut nama Sawerigading saja mereka harus membersihkan mulutnya. Begitu sakralnya naskah Lagaligo dan Sawerigading di dalam naskah ini bagi mereka.
“Memang dia berbentuk sastra, hanya saja tidak tersusun seperti puisi. Ditulis sambung menyambung. Setiap lima suku kata ini, irama yang lima. Karena pada saat dinyanyikan harus mengikuti irama yang lima-lima itu. Kurang atau lebih, akan menyebabkan ‘faals’. Sayang kita tidak bisa menghadirkan ‘pasure’ dari Sengkang, tentang cara membaca Lagaligo itu dengan baik dan mereka paham dengan terjemahannya,” sebut Nurhayati Rahman.
Penerima Kalla Award ini menyebutkan, seperti apa perempuan-perempuan dalam Lagaligo. Hampir seluruh pakar di dunia ini menyebut, sistem kekeluargaan yang terbangun di Sulawesi Selatan tidak menganut “patrialchat” seperti di Barat, tetapi bilateral. Kompetensi, kemampuan, dan potensi kegiatan di ruang publik dan siapa di ruang domestik harus berdasarkan kesepakatan. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Lagaligo.
“Setiap akan mengambil keputusan, pasti harus musyawarah dan harus setia pada hasil musyawarah tersebut,” ujar Nurhayati Rahman yang baru menuntaskan alih aksara dan alih bahasa Lagaligo Jilid IV yang tebalnya 817 halaman bersama Basiah dan Faisal Oddang.
“Coba anak-anak bayangkan, kalau tidak kuat imannya bisa lari terbirit-birit. Jadi, begitu panjangnya, sehingga menjadi ‘Memory of the World’ berdasarkan penatapan UNESCO di bawah PBB, ” kelakar Nurhayati Rahman.
Dokumen yang termasuk “memory of the World ”dari 496 di seluruh dunia, 11 di antaranya ada di Indonesia. Selain Lagaligo, juga termasiuk Arsip Konferensi Asia Afrika, Babad Diponegoro, Arsip VOC, Arsip Konservasi Borobudur, Arsip Tsunami, Negarakartagama, dan Cerita Panji. Pidato Bung Karno “The Build The World Anew”, Hikayat Aceh, dan Pertemuan Pertama Gerakan Non Blok.
Di dalam naskah Lagaligo, kata Nurhayati Rahman, kisahnya, laki-laki harus banyak kawin karena sebagai pembawa benih. Kalau salah persepsi, kita akan menganggap Sawerigading ini “play boy” karena dia 67 kali kawin. Pertama dia kawin dengan sepupunya, tetapi suatu saat dia melihat sepupu-sepupunya yang lain begitu banyak dan tidak kawin, tidak ada yang berani melamar sepupunya kalau bukan Sawerigading. Dia meminta izin pada ayahnya, Raja Luwu.










