Namun pengkhianatan datang dari orang dalam.
Seorang pegawai rumah sakit yang seorang Belanda mengintai gerak-geriknya. Suatu malam, ia tertangkap. Dipukul, diinterogasi, lalu dibawa ke markas Belanda di Makassar sebelum dikirim ke penjara di Parepare.
Di penjara itulah, takdir mempertemukannya dengan seorang kenalan sipir yang diam-diam masih punya nurani.
“Besok sel ini akan dibersihkan oleh Westerling,” bisik sang sipir. “Semua tahanan akan dieksekusi. Kalau kau ingin hidup, malam ini kau harus pergi.”
Dengan bantuan sipir itu, tengah malam Haji Katutu melarikan diri. Ia memanjat pagar tinggi penjara. Peluru Belanda sempat menghantam kakinya, namun ia tetap memaksakan diri berlari dalam luka. Dalam gelap malam, ia menyeberang pagar dan lenyap di antara semak, menuju hutan.
Sejak hari itu, hidupnya hanya untuk perjuangan. Ia bergabung dengan Laskar Ganggawa, pasukan rakyat yang bermarkas di Rappang, Sidrap. Bersama para pejuang lainnya, ia bergerilya dari hutan ke hutan, dari Sidrap ke Bone, dari Soppeng hingga Sinjai. Bertahun-tahun hidup dalam hutan , berjuang bukan demi nama, melainkan demi kemerdekaan yang kelak dinikmati anak cucunya.
Saat Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, para pejuang itu keluar dari hutan. Sebagian diangkat menjadi tentara. Banyak yang kemudian berpangkat tinggi, seperti Jenderal Andi Sose dan Arifin Nu’mang. Tapi Haji Katutu menolak jalan itu. Ia memilih kembali ke profesinya sebagai ahli medis, karena baginya, mengobati rakyat adalah bentuk perjuangan yang lain.
Ia kemudian memimpin kantor P3M (Pemberantasan Penyakit Menular), lembaga yang bekerja sama dengan UNICEF PBB. Di sanalah ia mengabdikan sisa hidupnya hingga pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Dalam kesederhanaannya, tak ada yang tahu bahwa darah pejuang mengalir dalam dirinya. Ia tak pernah bercerita, tak pernah menyebut jasa. Tak pernah sekalipun ia minta dihormati. Ia hanya bekerja, mengabdi untuk orang banyak, dan di masa pensiun selama 18 tahun mengurus warga sebagai ketua RW.
Dan kini, setelah kepergiannya, barulah bangsa ini tahu: pahlawan tak selalu datang dengan seragam, senjata, atau pangkat. Kadang, mereka hidup di sekitar kita—dalam sosok yang sederhana, diam, dan rendah hati.
Haji Katutu Daeng Matike adalah satu di antara mereka:
Pahlawan yang tak mau dikenal.
Karena bagi beliau, kemuliaan tidak terletak pada pengakuan manusia, tetapi pada keikhlasan berbuat untuk negeri yang dicintai.
Makassar, 10 November 2025










