Nur Aisyah, mahasiswa Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, membahas tema “Puisi Wanita Laparku di Makassar” dengan pendekatan semiotika Roland Barthes dalam presentasi tugas akhir magangnya.
Dalam analisisnya, Nur Aisyah menggali makna mendalam dari puisi tersebut, fokusnya pada simbol-simbol yang digunakan dalam puisi mencerminkan pengalaman dan perjuangan wanita di Makassar. Dengan menggunakan konsep tanda dan mitos Barthes, Icha menunjukkan bahwa puisi ini tidak hanya berbicara tentang kelaparan fisik, tetapi juga kelaparan akan pengakuan, cinta, dan identitas.
Melalui pendekatan ini, Nur Aisyah berusaha untuk menggugah kesadaran akan isu-isu sosial yang dihadapi wanita di masyarakat, serta menekankan pentingnya puisi sebagai medium ekspresi yang kaya kearifan.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum, M.Ag., memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan magang yang dilaksanakan oleh mahasiswa Departemen Sastra Daerah Universitas Hasanuddin.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat hubungan antara akademisi dan lembaga kebudayaan.
“Kami sangat mengapresiasi kontribusi mahasiswa dalam mendokumentasikan dan melestarikan bahasa serta budaya daerah. Presentasi tugas akhir mereka menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pelestarian warisan budaya lokal,” ujarnya.
Toha juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pendidikan dan praktik di lapangan. Ia berharap kegiatan magang ini dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk menerapkan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam konteks nyata.
“Dengan pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga memahami tantangan yang dihadapi dalam pelestariannya. Kami berharap ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih aktif dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah,” tambahnya.
Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S., M.Hum., selaku dosen pendamping magang, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam mengintegrasikan pendidikan dengan praktik lapangan.
“Saya sangat mengapresiasi antusiasme mahasiswa dalam menyelami isu-isu kebudayaan lokal. Melalui magang ini, mereka tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga berkontribusi langsung dalam pelestarian dan pengembangan bahasa daerah, sastra, dan budaya daerah,” ujarnya.
Dengan harapan, pengalaman ini dapat membentuk karakter dan kepedulian mahasiswa terhadap warisan budaya mereka.
Staf Teknis Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Sandra Safitri Hanan, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan magang mahasiswa merupakan kesempatan berharga untuk menjembatani teori dan praktik. Ia menekankan, “Keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan presentasi tugas akhir di Balai Bahasa sangat penting untuk pengembangan diri mereka.
Hal ini tidak hanya memperkaya pengalaman akademis, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang isu-isu kebudayaan dan bahasa yang relevan di masyarakat.
Senada dengan itu, Charmilasari, S.S., M.Hum., mengungkapkan rasa bangganya terhadap hasil karya mahasiswa.
“Melalui presentasi ini, mahasiswa berhasil menunjukkan kreativitas dan kedalaman analisis mereka. Saya berharap mereka terus mengembangkan potensi ini dan berkontribusi lebih besar dalam pelestarian dan pengembangan bahasa serta budaya daerah,” ujarnya.
Ramlah Mappau, S.S., M.Hum., menambahkan bahwa kegiatan magang ini sangat relevan dengan upaya Balai Bahasa dalam melestarikan budaya lokal.
“Kami melihat bahwa mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga memberikan perspektif baru yang segar. Ini merupakan sinergi yang positif antara akademisi dan praktisi, yang diharapkan dapat memperkuat identitas budaya kita,” jelasnya.












