Barru, NusantaraInsight — Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin yang mengikuti program magang di KPH Ajatappareng melakukan inventarisasi tegakan dan monitoring evaluasi (monev) sadapan getah pinus di kawasan LPHD Puncak Lappalaona dan KTH Batara Indah, Kabupaten Barru.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Mata Kuliah Penguat Kompetensi (MKPK) tersebut dilaksanakan langsung di lapangan bersama pengurus lembaga pengelola hutan desa (LPHD), kelompok tani hutan, dan pendamping KPH Ajatappareng. Tujuannya untuk menilai kondisi tegakan pinus, mengevaluasi praktik penyadapan, serta mengidentifikasi potensi pengembangan hasil hutan bukan kayu guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pelaksanaan, mahasiswa melakukan pengukuran pohon, pencatatan diameter dan kondisi tegakan, serta pendataan aktivitas penyadapan getah pinus. Mereka juga mengobservasi teknik penyadapan yang dipakai masyarakat untuk menilai efektivitas dan keberlanjutan pemanfaatan getah pinus.
“Kegiatan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan dan pengawasan sumber daya hutan yang melibatkan masyarakat,” ujar salah satu pendamping dari KPH Ajatappareng. Data lapangan yang dikumpulkan diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan produktivitas hasil hutan bukan kayu tanpa mengorbankan kelestarian hutan.
LPHD Puncak Lappalaona dan KTH Batara Indah selama ini aktif dalam pemanfaatan getah pinus. Kehadiran mahasiswa dinilai membantu proses pengumpulan data sekaligus memperkuat sinergi antara akademisi dan pengelola hutan.
Kegiatan ini dinilai penting karena selain menjadi sarana pembelajaran praktis, juga menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan hutan lestari. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan KPH Ajatappareng, diharapkan pengelolaan tegakan pinus dan pemanfaatan getah pinus dapat berjalan lebih produktif dan berkelanjutan.













