Departemen Sastra Daerah FIB Unhas Gelar Pengabdian Aksara Lontara dan Jalin Kemitraan Strategis di Universiti Malaya

Melalui pemaparan yang komprehensif, tim FIB Unhas membedah strategi efektif dalam membaca dan menulis aksara Lontara. Edukasi ini menjadi medium yang sangat berharga bagi mahasiswa dan dosen di Malaysia untuk memahami akar historiografi dan mahakarya sastra Sulawesi Selatan, seperti epik I La Galigo. Antusiasme yang terpancar dari para peserta di Universiti Malaya membuktikan bahwa batasan geografis tidak mampu menyekat rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap literasi warisan leluhur.

Namun, simpul pertemuan dua raksasa penjaga budaya ini tidak berhenti pada ruang diskusi semata. Dialektika yang terbangun menghasilkan kesepakatan-kesepakatan strategis yang visioner untuk masa depan pendidikan tinggi kedua institusi. Dalam suasana yang harmonis, FIB Unhas dan Akademi Pengajian Melayu UM menyepakati kolaborasi multidimensi. Pertama, sinergi dalam bidang kepenulisan; di mana dosen-dosen dari kedua universitas akan berkolaborasi melahirkan karya ilmiah dan publikasi jurnal bertaraf internasional yang mengkaji persinggungan sastra dan budaya serumpun.

Kedua, kesepakatan untuk menyelenggarakan konferensi bersama secara berkala. Mimbar akademik ini nantinya akan menjadi episentrum bagi para sarjana, peneliti, dan budayawan se-Asia Tenggara untuk mendiskusikan isu-isu kontemporer terkait pelestarian bahasa dan kesusastraan. Langkah ini diharapkan mampu merumuskan strategi kebudayaan yang relevan dengan tantangan zaman modern.

BACA JUGA:  3 Mata Kuliah dalam Satu Paket: Belajarnya Dapat, Jalan-Jalannya Dapat, Pariwisata 2025 Goes to Barru

Ketiga, dan yang paling revolusioner, adalah kesepakatan terkait program mobilitas dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Ke depannya, dosen-dosen dari Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya akan diberikan ruang dan kesempatan untuk menempuh studi lanjut dan melakukan riset mendalam di FIB Unhas, Makassar. Sebaliknya, dosen dan peneliti dari FIB Unhas juga akan melakukan hal serupa di Universiti Malaya. Pertukaran intelektual ini merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak cendekiawan-cendekiawan berwawasan global yang tetap berpijak pada akar tradisi.

Seluruh rangkaian diskusi akademik, pertukaran gagasan, dan penyelarasan visi ini kemudian ditutup dengan jamuan makan siang bersama yang penuh keakraban. Di meja perjamuan tersebut, sekat-sekat formalitas melebur menjadi jalinan persahabatan yang tulus. Hidangan yang disajikan menjadi simbol dari perpaduan dua kebudayaan yang saling melengkapi.

Kunjungan FIB Unhas ke Universiti Malaya pada hari ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah hubungan diplomasi pendidikan kedua institusi. Aksara Lontara telah menjadi jembatan yang tidak hanya menghubungkan masa lalu dengan masa kini, tetapi juga menautkan dua bangsa dalam satu visi besar: menjaga dan memuliakan peradaban serumpun untuk generasi yang akan datang.