Begitupun saat beliau diberi amanah sebagai Ketua Program Studi Sastra Inggris FBS-UNM, beliau mampu membawa prodinya itu meraih Akreditasi A.
Baik selama menjabat Kaprodi maupun Wakil Dekan III FBS-UNM, Sukardi Weda selalu membuka diri dan berkomunikasi dengan mahasiswa. Dengan begitu, beliau bisa bicara dari hati ke hati, memotivasi mereka, dan bisa menjadi solusi di tengah dinamika kehidupan kampus.
Dapat apresiasi karena prestasi, merupakan bab terakhir dari buku “Profesor Pembelajar”. Prof. Sukardi Weda menggambarkan sepak terjangnya sebagai aktivis dan organisatoris di tengah dinamika politik kampus. Beliau bahkan mempertegas dirinya sebagai seorang petarung, meski belum berhasil menjadi orang nomor satu di Menara Pinisi.
Dengan visi yang jelas dan rekam jejak prestasi yang sudah berhasil ditorehkan, tidak mustahil impian-impiannya akan menjadi nyata.
Ketika diberi kepercayaan mengemban amanah sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, beliau terbuka dan intens berkomunikasi dengan mahasiswa. Beliau senantiasa memotivasi mahasiswa agar bisa meraih prestasi, yang berarti juga kebanggaan dan nama baik UNM.
Di antara semua kesibukannya, beliau berusaha untuk tetap menjaga mood dan energinya, dengan cara yang sederhana, biar tetap sehat dan produktif.
Buku “Profesor Pembelajar” ini hanya bercerita dan mengungkap kisah hidup Prof. Sukardi Weda hingga menjabat sebagai WR III UNM, selama 2 tahun 3 bulan. Sama sekali tidak menyinggung soal ‘pemberhentian’ di tengah jalan sebagai WR III, yang sempat jadi topik hangat pemberitaan media massa tersebut.
Alasannya, pertama, karena memang sejak awal buku ini diniatkan untuk memberi motivasi dan inspirasi dari kisah hidup seorang Sukardi Weda sebagai pembelajar, meski sudah bergelar Profesor.
Kedua, ada rencana untuk mengungkap tuntas keputusan dramatis pemberhentian itu, menjadi buku tersendiri agar lebih terang bagi publik. Publik nantinya bisa membaca, apa yang sesungguhnya terjadi sehingga dosen berprestasi ini diberhentikan oleh Rektor UNM, dan bagaimana Sukardi Weda menghadapi situasi tersebut. Tentu bakal jadi cerita yang menarik, tetapi itu nanti.
Saya berterima kasih kepada Prof. Sukardi Weda yang mempercayakan saya sebagai editor bukunya. Buku ini memberi pengalaman dan kenangan tersendiri bagi saya karena ‘honor’-nya digunakan untuk menambah uang panaik pernikahan anak saya di bulan Agustus 2022.
Semoga buku ini memberi inspirasi dan motivasi kepada para pembaca, sebagaimana diniatkan sejak awal. Aamiin. (*)












