Karena itu, dijalankan pula jurnalisme makna dan jurnalisme positif. Sekarang bukan lagi “bebas dari” tapi “bebas untuk”. Makanya, fungsi media massa pada tataran ini tidak tunggal.
Kegiatan jurnalistik punya banyak fungsi, mulai dari fungsi ekonomi, fungsi informasi, fungsi edukasi, fungsi kebudayaan, fungsi integrasi sosial, fungsi peringatan lingkungan, juga fungsi dakwah.
Sungguh, jurnalisme itu sangat dinamis dan penuh warna. Praktik jurnalisme terus bertransformasi dan bermetamorfosis.
Berdasarkan gaya dan topik pemberitaannya, sebagaimana disebut dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Sukardi Weda, “Mengenal Dunia Jurnalistik: Dari Ide ke Berita,” ini, terdiri atas Jurnalisme Damai (Peace Journalism), Jurnalisme Perang (War Journalism), Jurnalisme Pembangunan (Development Journalism), Jurnalisme Kuning (Yellow Journalism), Jurnalisme Umpan Balik (Clickbait Journalism), Jurnalisme Warga (Citizen Journalism), Jurnalisme Komunitas (Community Journalism), Jurnalisme Investigasi (Investigative Journalism), Jurnalisme Korporasi (Corporate Journalism), Jurnalisme Merek (Brand Journalism), Jurnalisme Dakwah, dll (Prokomsetda, 2029).
Selain itu, juga ada Jurnalisme Sastrawi, Jurnalisme Data, Jurnalisme Bencana, dan sebagainya.
Dengan model pendekatan yang sangat variatif seperti itu, maka dapat dipastikan betapa besar pengaruh jurnalisme dalam kehidupan dan kemanusiaan. Jurnalisme yang telah berlangsung lama, bertumbuh dan berkembang, ikut mendinamisasi kebudayaan dan peradaban umat manusia.
Sulit dibayangkan kita hidup bernegara dan bermasyarakat tanpa peran media massa, apa pun bentuknya, siapa pun pengelola, sesederhana apa pun itu. Mengapa? Sebab jurnalisme punya kekuatan dan berdampak! Dalam hidup kita, media massa ikut memberi arah, jadi kompas dan panduan.
Publikasi tentang temuan dan inovasi, menjadi pembelajaran dan memberi inpirasi. Sehingga tidak berlebihan bila disebut sebagai guru dalam pemajuan kebudayaan.
Buku “Mengenal Dunia Jurnalistik: Dari Ide ke Berita” ini, bukan hanya memberi informasi dan memperkaya wawasan tapi juga bagaimana media massa dan jurnalis memahami etika dan hukum. Beberapa materinya malah berisi petunjuk praktis bagaimana cara melakukan (how to) wawancara, reportase, menulis berita, atau juga berkomunikasi yang baik.
Artinya, dalam buku ini ada instruksi atau panduan praktis yang dapat membantu pembaca memahami dan menguasai pengetahuan atau keterampilan di bidang jurnalistik.
Dengan judul “Mengenal Dunia Jurnalistik: Dari Ide ke Berita”, penulis sesungguhnya tak hanya memperkenalkan dunia jurnalistik dalam artian aktivitas dan profesi semata, tapi juga menghadirkan lanskap semesta jurnalisme.
Bahwa sebelum menjadi berita, ada ide liputan, apa yang menjadi angel-nya, siapa saja yang berkompeten untuk diwawancarai, apa judulnya, dan bagaimana lead-nya. Menurut penulis, jurnalistik itu merupakan seni mengemas dan menyampaikan informasi atau berita.
Ide berita hanya ada bila jurnalisnya selalu memperbarui (update) terus-menerus informasi, tahu peristiwa aktual, dan bagaimana meresponsnya. Dia mesti punya feeling dan insting jurnalistik untuk mengangkat dan menulis berita itu, bukan cuma karena ‘kebetulan’ bekerja sebagai wartawan atau sekadar penugasan.
Namun, juga didorong oleh tanggung jawab, kepedulian, bahkan keberpihakan pada isu-isu publik, terutama persoalan-persoalan Hak Asasi Manusia (HAM), diskriminasi rasial, pemarginalan kelompok rentan, eksploitasi dan perlindungan anak, isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, serta problem krusial lainnya.












