Raodatul Jannah dan Warna-Warni String Art Bergaya Pop-Art

Diceritakan, rata-rata waktu yang dia perlukan dalam berkarya bisa sampai 3 minggu. Masing-masing ukuran karya memakan waktu tersendiri. Paling kecil, butuh waktu 3 hari untuk satu karya. Kalau karya ukuran standar, bisa memakan waktu sampai 2 minggu, baru rampung. Sementara untuk ukuran paling besar, butuh waktu sampai 3 minggu baru mewujud satu karya.

Sebagai generasi digital, dalam proses kreatifnya, Oda sering melihat beberapa referensi yang terdapat pada aplikasi Pinterest atau mesin pencari Google. Platform digital tersebut membantunya menemukan ide dengan melihat gambar-gambar yang ada. Itu semacam ensiklopedia tanpa batas, yang leluasa dia akses.

Dari sana, dia mengadaptasi gambar-gambar itu, memadukannya dengan imajinasi yang ada di kepalanya sendiri. Misalnya, bila ada yang menarik dari gambar pertama, dia ambil. Lalu dipadukan dengan gambar lain yang dibayangkan pas untuk diaplikasikan melalui karya string art. Jadi ada semacam proses tafsir dan reka bentuk yang dikreasikan dan diselaraskan dengan media yang digunakan. Dia akan menakar gambar-gambar itu, melalui tarikan-tarikan benang smock dari satu batang paku ke batang paku lainnya, sehingga mampu menghasilkan karya yang unik dan kreatif.

BACA JUGA:  Ahmad Yani, Awardee LPDP Asal Sulsel Jadi Wisudawan Terbaik UGM

Harus diakui, dalam setiap proses kreatif, seseorang akan diperhadapkan pada tantangan tertentu, yang bisa jadi kendala baginya. Oda pun merasakan hal itu. Diakui bahwa kendala yang dihadapi berupa ketersediaan bahan papan kayu yang diperlukan. Terkadang, dia harus menunggu stok papan kayu terlebih dahulu, serta menunggu papan kayu kering dengan merata, sebelum memulai karya string art-nya. Stok benang smock juga bisa jadi kendala karena harga yang tidak menentu. Begitupun dengan harga paku, yang kadang naik turun mengikuti situasi pasar dan hukum ekonomi.

Diungkapkan, bahwa kesulitannya dalam berkarya lebih ketika mengumpulkan bahan yang diperlukan dan kebutuhan bahanya itu sendiri. Dia menilai, karya yang dibuatnya lebih cenderung seperti mengerjakannya aktivitas fisik, layaknya pekerjaan laki-laki. Misalnya, menggergaji papan dan memotong batang kayu. Belum lagi menggunakan palu untuk memaku satu-satu paku di atas papan kayu yang dijadikan medium string art. Konstruksi gender rupanya ikut mempengaruhi pola pikirnya yang, mungkin, terbentuk secara nurture melalui internalisasi pada lingkup pergaulan sosialnya. (*)