Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Mengenang Ayahnya. Buku ‘Bunga Rampai Sosiologi’ pada Tahun Kelahiran

Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu
Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu membacakan puisi untuk ayahnya

Satu lagi, ketika kita berbicara soal lintas disiplin, multidisiplin, beliau sudah lakukan sejak muda itu.

“Setelah profesor, saya ke rumah di Surabaya. Saya membongkar buku-buku tua dan menemukan satu buku yang dibeli pada tahun kelahiran saya, 1964. Buku itu adalah “Bunga Rampai Sosiologi” karangan Prof. Selo Soemardjan yang dibeli di Banda Aceh. Subhanallah…Saya telah menjadi seorang Profesor Sosiologi tanpa saya tahu ayah pada tahun kelahiran saya telah membeli buku pada cetakan I,” kata Dwia dengan terisak.

Dwia juga membongkar buku tua dan menemukan buku ‘Perjanjian Lama’, tentang ‘Perbandingan Islam dan Kristen’ yang dibeli pada tahun 1970-an.

“Itu mungkin yang kita bisa pelajari dari seorang lelaki tua yang sangat sabar dan menjadi panutan kami. Kita punya orang tua yang tentu saja menjadi panutan semua. Saya ‘sharing’ ini supaya kita mendapatkan inspirasi dari beliau dan merupakan amal jariahnya tentang toleransi yang ditanamkan kepada kami sejak kecil,” kata Dwia.

Dwia mengikuti tugas ayahnya ke Banda Aceh, Riau, Madura, Kupang, Jawa Tengah, dan Makassar (sebagai pegawai Bank Rakyat Indonesia). Kepindahan itu bukan hanya sekadar kepindahan saja, melainkan beliau mengajarkan tentang toleransi bahwa kita sama. Beda agama, beda asal, itu tidak berarti yang satu lebih rendah dari yang lain. Beliau tidak ucapkan, tetapi bagaimana memperlakukan orang yang berbeda asal dan agama itu sama semua.

BACA JUGA:  L.E.Manuhua : Lolos Berkat Kamera Tanpa Film

Beliau mengangkat seorang anak, kakak angkat kami sebelum kakak tertua saya lahir adalah seorang Tionghoa. Kakak kami sekarang tinggal di Sydney (Australia). Seorang nabi pun yang menjadi contoh kita menganjurkan ‘belajar ke Negeri Cina”.

Hal-hal seperti itu yang membuat kami mengenang beliau dengan karakternya. Saya sejak kecil dikasih buku, ketika SMP buku silat ‘Koo Ping Ho’.

“Tina bawa ini. Kalau kamu istirahat di sekolah, kamu baca. Dua jilid. Sudah jilid berapa kamu baca,” pesan ayahnya sambil bertanya dan meminta Dwia menceritakan kebajikan apa yang ada di dalam cerita silat itu.

Saat SMA Dwia dibelikan buku Novel Agatha Christie, Barbara Cartland. Dari buku Agatha Christie diajarkan bagaimana tentang ‘catch spy’ untuk meneliti. Itulah beliau sangat keras, tetapi sangat sabar. Ini ponakan-ponakannya ada di sini, bagaimana seorang Masri Harmain Pulubuhu. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah beliau. Di antara kelemahan dan kekurangannya ada kebaikan yang bisa bagikan bersama.

Dwia juga menyampaikan terima kasih kepada para dokter yang telah merawat ayahnya. Selama setahun terakhir, ayahnya bertempat tinggal dengan Dwia agar lebih mendekatkan beliau dengan anak-anaknya. Terima kasih serupa kepada keluarga besar Pulubuhu Prof.Basri Hasanuddin, dan seluruh pengurus Yayasan Al Markaz Al Islami, tempat jenazah Masri Harmain Pulubuhu disalatkan oleh ribuan jamaah salat Jumat sebelum dibawa ke kuburnya.