“Izin saya bisa ditemani Pak Natsir supaya lebih kuat,” kata Dwia saat mengawali sambutan pada takziah yang dihadiri secara lengkap oleh Prof.Basri Hasanuddin dan Ibu beserta sejumlah guru besar, dosen, kerabat, sahabat, dan undangan.
Dwia menyampaikan merasa bersyukur dan terhibur melihat kehadiran teman-teman dan saudara-saudara tiga malam, mengenang wafatnya ayahnya H.Masri Pulubuhu bin Harmain Pulubuhu. Tauziah yang dibawakan Ustaz Arle memang sangat menghibur. Bisa sejenak melupakan rasa duka keluarga atas kepergian almarhum.
“Oleh karena itu dari lubuk hati yang paling dalam, saya keluarga besar Bapak Masri Harmain Pulubuhu, kakak beradik mengucapkan terima kasih yang dalam atas kebersamaan yang sangat menghibur dan menguatkan kami atas kepergian ayah. Mohon maaf sebagian adik dan kakak saya sudah pulang ke Jakarta karena mereka ada hal yang harus dilakukan. Saya tahu mereka tidak kuat berlama-lama di sini untuk mengenang kesedihan kehilangan ayah kami,” ujar Dwia dengan suara yang datar.
Kemarin Pak Ustaz menceritakan bahwa hingga 40 hari, ‘beliau’ (Pak Masri almarhum) masih di sekitar kita. Oleh karena itu Dwia ingin berbagi yang baik-baik tentang beliau dan mudah-mudahan beliau tersenyum melihat dan Insha Allah bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan betul-betul kami berharap menjadi amal jariah bagi beliau.
Kematian adalah kabar tepercaya dan pasti. Tidak ternoda oleh syak wasangka sedikit pun. Tidak ada ‘hoax’ tentang kematian. Allah sendiri berfirman dalam surah Al Anbiya:35, yang artinya” Setiap jiwa pasti merasakan kematian. Dan Kami timpakan fitnah bagimu berupa keburukan dan kebaikan, Kepada Kami-lah kalian dikembalikan”.
Dwia mengatakan, H.Masri lahir di Gorontalo, 87 tahun yang lalu dari keluarga guru. Ayahnya adalah seorang guru. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Masri ke Jakarta, memperjuangkan nasibnya. Dia tinggal pada keluarga hingga sampai pada karier yang cukup baik.
Alhamdulillah. Beliau menjadi seorang bankir. Posisi terakhir sebelum pensiun sempat menjadi wakil pemimpin wilayah (Wapimwil) BRI, dulu Sulawesi Selatan merangkap Papua dan Maluku. Terakhir beliau dipromosi menjadi Kepala Inspektorat Wilayah BRI Kalimantan.
“Alhamdulillah dari beliau kami belajar banyak. Bagaimana kerja keras dan sekolah itu adalah yang terpenting untuk mencapai karier yang baik. Teringat pesan beliau ketika mau menikah dengan Pak Natsir, saya belum selesai sarjana. Beberapa hari menjelang pernikahan, beliau memanggil Pak Natsir,” kenang Dwia.












