Warkop Parlemen

Sekadar menyebut beberapa yang saya ingat, Warkop Phoenam (Boulevard), Warkop Sami (Boulevard), Warkop Dg Sija (Boulevard), KopiZone (Boulevard), Warkop Dg Anas (Pelita Raya), Warkop Terminal Kopi (Ruko Toddopuli), Warkop Aleta (Pasar Toddopuli), Roemah Kopi (Jalan Sultan Alauddin), Warkop Cappo (Jalan Sultan Alauddin), Kedai Tujuh Belas (Jalan Anggrek), dan Kafe Ogie (Jalan AP Pettarani). Sejumlah warkop ini, hanya tinggal kenangan, bahkan bangunan fisiknya telah berganti rupa.

Menariknya, diskusi yang diselenggarakan di warkop-warkop ini dikemas secara onair, dan live melalui siaran radio, kadang juga televisi. Seingat saya, radio-radio yang rutin bikin talkshow atau obrolan dari warkop hanya ada beberapa, antara lain Radio Mercurius FM, Radio Makassar FM, dan Radio Fajar FM. Ada juga beberapa radio yang menggelar diskusi di dan dari warung kopi, tetapi sifatnya sporadis.

Dari semua diskusi warung kopi yang disiarkan radio, yang paling membekas tentu saja Obrolan Warung Kopi Mercurius, yang disiarkan live di Radio Mercurius FM dari Warung Kopi Phoenam, Panakkukang Boulevard, Makassar. Program siaran radio yang idenya dari demokrasi praktis, dan demokrasi yang muncul sehari-hari ini mulai mengudara pada Maret 2002.

BACA JUGA:  Prof. Mardi : Bapak logika itu Nabi Ibrahim

Success story diskusi kolaborasi warkop dan radio itu sudah dibukukan dengan judul “Demokrasi dari Warung Kopi”, ditulis oleh M Taufiq Nahwi Rasul (Yosi Karyadi) dengan editor Andy Mangara dan Mohammad Syafei, terbit tahun 2008.

Andy Mangara merupakan host acara ini, tetapi bila berhalangan ia digantikan Reihan Wahyudi. Saya beberapa kali menjadi tamu atau narasumber acara ini, baik sebagai aktivis hak anak maupun sebagai komisioner KPID Sulawesi Selatan.

Reputasi dan brand Obrolan Warung Kopi Mercurius, kian diakui ketika mendapat liputan Harian Kompas, pada edisi Kamis, 16 Mei 2002, dengan judul “Sambil Ngopi, Lahirlah Calon Gubernur”.

Patut diberi jempol, Radio Mercurius FM benar-benar melakukan terobosan, saat pemilihan kepala daerah masih di DPRD. Sungguh radio ini berani menggelar debat publik, yang kelak jadi trend setter. (*)