Bila dalam demokrasi formal dan prosedural, ada pembatasan-pembatasan dan koridor yang mesti dipatuhi, di warkop semuanya serba longgar, hanya dibatasi etika komunikasi. Warkop menjadi ruang representasi partisipasi warga yang paling murni, membumi, dan ekspresif.
*Kolaborasi Siaran Radio*
Warkop punya sumber daya, jejaring, dan tradisi berdemokrasi. Ia bagai festival suara rakyat tanpa jeda dan batas waktu. Seminggu bisa 7 hari, sehari bisa 24 jam, tergantung jam operasional warkop bersangkutan. Tinggal dikelola dan dibuatkan sistemnya, maka jadilah paket program diskusi yang hangat, bahkan panas.
Inilah tren yang menyeruak sejak awal 2.000an. Terjadi kolaborasi warkop dengan media dalam menghadirkan diskusi-diskusi publik, terutama mengusung tema politik dan demokrasi.
Secara pribadi, saya punya pengalaman panjang diundang hadir di warkop untuk berdiskusi terkait berbagai topik dan isu: anak, media, kebangsaan, literasi, dan tema-tema yang relevan dengan itu.
Sekadar menyebut beberapa yang saya ingat, Warkop Phoenam (Boulevard), Warkop Sami (Boulevard), Warkop Dg Sija (Boulevard), KopiZone (Boulevard), Warkop Dg Anas (Pelita Raya), Warkop Terminal Kopi (Ruko Toddopuli), Warkop Aleta (Pasar Toddopuli), Roemah Kopi (Jalan Sultan Alauddin), Warkop Cappo (Jalan Sultan Alauddin), Kedai Tujuh Belas (Jalan Anggrek), dan Kafe Ogie (Jalan AP Pettarani). Sejumlah warkop ini, hanya tinggal kenangan, bahkan bangunan fisiknya telah berganti rupa.
Menariknya, diskusi yang diselenggarakan di warkop-warkop ini dikemas secara onair, dan live melalui siaran radio, kadang juga televisi. Seingat saya, radio-radio yang rutin bikin talkshow atau obrolan dari warkop hanya ada beberapa, antara lain Radio Mercurius FM, Radio Makassar FM, dan Radio Fajar FM. Ada juga beberapa radio yang menggelar diskusi di dan dari warung kopi, tetapi sifatnya sporadis.
Dari semua diskusi warung kopi yang disiarkan radio, yang paling membekas tentu saja Obrolan Warung Kopi Mercurius, yang disiarkan live di Radio Mercurius FM dari Warung Kopi Phoenam, Panakkukang Boulevard, Makassar. Program siaran radio yang idenya dari demokrasi praktis, dan demokrasi yang muncul sehari-hari ini mulai mengudara pada Maret 2002.
Success story diskusi kolaborasi warkop dan radio itu sudah dibukukan dengan judul “Demokrasi dari Warung Kopi”, ditulis oleh M Taufiq Nahwi Rasul (Yosi Karyadi) dengan editor Andy Mangara dan Mohammad Syafei, terbit tahun 2008.
Andy Mangara merupakan host acara ini, tetapi bila berhalangan ia digantikan Reihan Wahyudi. Saya beberapa kali menjadi tamu atau narasumber acara ini, baik sebagai aktivis hak anak maupun sebagai komisioner KPID Sulawesi Selatan.













