Tradisi Kebangru’an

Bersama Akeu Surya Panji (atas) dan Yuga Anggana (bawah). Foto: Ist.

Selain pesan-pesan tentang pergaulan dan tentang alam, Rihin banyak menulis teks lagu ke-agamaan (Islam). Teks lagu religi yang ditulisnya menjadi salah satu cara Rihin dalam menyampaikan pesan-pesan Islami. Musik _kebangru’an_ dengan teks lagu religinya berfungsi sebagai syi’ar agama –penyampaian pesan kebaikan.

Menurut Akeu, setiap instrumen dalam musik kebangru’an memiliki makna-makna filosofis. Instrumen musik _kebangru’an_ yang berjumlah total 8 (delapan) buah diidentikkan dengan bagian-bagian tubuh manusia, maka ke-delapan instrumen harus dimainkan keseluruhan secara utuh untuk menggambarkan utuhnya manusia.

1. _Penting/Mandolin_ sebagai jantung atau hati (perasaan), pesan di dalamnya, supaya kita menjaga hati tetap bersih dan selalu dalam prasangka baik.

2. _Gendang_ sebagai kepala, gambaran dari pikiran manusia. Tempo irama dari permainan musik kebangru’an–panjang atau pendek durasi permainan musiknya–ditentukan oleh gendang. Pesan yang hendak disampaikan agar manusia bijaksana dalam berpikir, mempertimbangakan segala hal dalam pengambilan keputusan.

3. _Suling_ dimaknai sebagai jasad, gambaran dari tubuh dan panca indera yang mempunyai pesan agar selalu menjaga seluruh panca indera: pendengaran, penglihatan, penciuman, dan lainnya untuk kebaikan.

BACA JUGA:  Dua Pendekar Mabuk

4. _Piul/Biola_ dimaknai sebagai lidah, gambaran dari ucapan atau lisan yang berpesan: agar selalu menjaga lisan supaya tidak menyakiti perasaan orang lain.

5. _Gambus_ dimaknai sebagai simbol dari isi perut manusia dengan pesan agar setiap manusia mencari rezeki dengan cara yang baik.

6. _Jidur_ dimaknai sebagai perut manusia, gambaran dari dunia yang berpesan supaya dalam menjalankan kehidupan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

7. _Rencek/Ceng-Ceng Rincik_ dimaknai sebagai kaki dan tangan, merupakan gambaran dari langkah dan laku, tujuan di dalam menjalankan kehidupan yang memiliki pesan agar di setiap perbuatan selalu berada di jalan yang baik dan lurus.

8. _Gong_ dimaknai sebagai tulang sulbi atau kursi, gambaran dari kedudukannya supaya manusia bisa menjaga etika dan tata krama dan penentu dari semua tujuan kebaikan.

*Kearifan Lokal*

Kajian Yuga Anggana (2023: hal 133-134) menyatakan bahwa ritus _kebangru’an_ sebagai sebuah tradisi memiliki alasan kuat hingga mampu bertahan hingga kini. Terdapat ragam manfaat yang dirasakan masyarakat dari adanya ritus _kebangru’an_ .

BACA JUGA:  BUKAN AKHIR DUNIA

Nilai-nilai kebermanfaatan tersebut, yaitu: (1) sebagai terapi penyembuhan orang kesurupan, (2) sebagai sumber informasi dari roh leluhur, (3) sebagai media pengobatan alternatif bagi masyarakat, (4) menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, (5) menumbuhkan sikap gotong royong, (6) menumbuhkan sikap disiplin dan tertib, dan (7) meningkatkan sikap religius.

Hal utama yang juga menjadi bagian dari kearifan dari ritus _kebangru’an_ ialah tumbuhnya adab manusia terhadap alam. Ritus _kebangru’an_ terkait erat dengan mata air Mualam Benyer.

Selain musik yang digunakan merupakan musik yang kerap dimainkan di mata air Mualam Benyer sebagai pengiring aktivitas keseharian warga, roh leluhur yang merasuki tubuh seseorang dalam fenomena _kebangru’an_ selalu meminta dibawakan air dari mata air Mualan Benyer, atau ia sendiri yang menyatakan keinginan untuk mengunjungi mata air Mualan Bernyer.

Bersumber dari informasi yang konon disampaikan oleh roh leluhur bahwasannya mata air beserta sekitarnya harus selalu dirawat dan dijaga dengan baik, masyarakat kemudian memiliki ritual khusus pemberishan mata air tersebut yang digelar rutin di setiap tahun.