“Prosesi ritus _kebangru’an_ merupakan sebuah prosesi penyembuhan bagi orang yang mengalami kesurupan, yang diyakini masyarakat sebagai akibat dari adanya kekuatan dari makhluk yang tidak terlihat yang menguasai pikiran dan tubuh, “ ujar Yuga (Rabu, 30/07).
Masyarakat Kecamatan Pringgabaya memiliki pandangan bahwa pada fenomena _kebangru’an_ , sosok yang merasuki tubuh seseorang merupakan roh leluhur yang hendak memberikan petunjuk-petunjuk tertentu yang mengarah pada kebaikan bagi kehidupan masyarakat.
Akeu pun menyadari bahwa masyarakat Pringgabaya menyakini hal-hal gaib sejak dari dulu. Hal ini pun dibuktikan dengan ditemukannya nekara di tahun 1999. Nekara dianggap sebagai benda pusaka yang sakral, yang kerap digunakan dalam ritual keagamaan orang terdahulu.
Pandangan tersebut berasal dari keyakinan kuno kepercayaan animisme dan dinamisme. Hingga kini—setelah masuknya berbagai agama dan kepercayaan lain—ritus _kebangru’an_ masih tetap ada dan dilaksanakan oleh masyarakat, (bahkan para penggiatnya membentuk wadah khusus berbadan hukum dalam upaya melestarikan kesenian yang terkandung dalam prosesi ritus kebangru’an tersebut).
Selain sesaji dan serangkaian ritual pada prosesi ritus _kebangru’an_ , unsur seni menjadi hal utama lainnya (Yuga Anggana, 2023: hal. 18).
Seni yang dimaksud adalah permainan musik dan tarian. Musik pengiring ritual dikenal dengan sebutan musik _kebangru’an_ . Selain sebagai bagian dari ritus _kebangru’an_ , musik _kebangru’an_ secara terpisah memiliki fungsi tersendiri bagi masyarakat Desa Telaga Waru.
Pada upacara pernikahan atau kemeriahan lainnya, musik _kebangru’an_ bertransformasi menjadi musik yang berfungsi sebagai seni hiburan. Selain itu, musik kebangru’an kerap menjadi unsur utama dalam gelaran ritual adat lainnya, seperti ruwatan mata air Mualan Benyer, atau pernikahan.
“Terdapat pandangan bahwasannya ‘bebunyian dari permainan musik _kebangru’an_ memiliki peran dan fungsi untuk menjaga mata air. Masyarakat meyakini bahwa dengan dimainkannya musik _kebangru’an_ pada ritual ruwatan mata air, air akan tetap mengalir deras, tidak surut; air juga menjadi lebih berkualitas dan memiliki khasiat tertentu dan bisa digunakan sebagai media penyembuhan penyakit hingga media pengabul doa,” tulis Yuga.
*Instrumen Musik Kebangru’an*
Ritus _kebangru’an_ dengan musik sebagai unsur utama kerap mengundang kerumunan masyarakat untuk menyaksikan gelaran ritual tersebut, bahkan orang-orang dari desa lain yang mendengarnya akan turut hadir. Gelaran musik _kebangru’an_ pada ritus _kebangru’an_ menjadi tontotan yang estetis untuk dinikmati sebagai seni pertunjukan. Melalui pertunjukan dalam ritual _kebangru’an_ , interaksi sosial antar warga terjalin. Lokasi ritual _kebangru’an_ menjadi ruang publik, dan musik _kebangru’an_ memiliki peran sebagai media terwujudnya integrasi masyarakat.
Terkait hal ini baiknya kita mengedepankan peran sentral (almarhum) Rihin (Yuga Anggana, 2023: hal, 60) sebagai berikut:
*Pertama* , dengan inovasinya mengubah sajian dan fungsi musik _kebangru’an_ . Stigma akan mistisme dan menakutkannya musik _kebangru’an_ perlahan pudar setelah Rihin memainkan musik tersebut di berbagai kegiatan selain ritual _kebangru’an_ .
Penambahan teks lagu oleh Rihin menjadikan kesan musik _kebangru’an_ menjadi lebih fleksibel. Musik _kebangru’an_ menjadi hiburan yang dimainkan untuk menghibur tamu undangan di acara resepsi pernikahan, peringatan hari besar, juga perayaan-perayaan adat lainnya.
*Kedua* , pada penciptaan melodi nyanyian, mengadaptasi pola melodi instrumen penting dan biola sebagai instrumen melodis pembentuk motif gending. Lalu untuk pembentukan teks lagu Rihin mengambil tema tentang kehidupan sehari-hari.












