Terlepas dari ke’miring’an persepsi, saya tetap yakin bahwa Konferprov PWI untuk periode 2026 2031ini akan berlangsung aman dan kondusif.
Terus terang kalau mau ngotot dan berfikir negatif, saya pun bisa curiga dengan tidak masuknya anak saya dalam DPT, padahal dia sudah Anggota Biasa, ikut memilih sejak 2010 dan jadi Pengurus PWI Sulsel 2 (dua) periode.
Masalahnya, ketika terjadi dualisme kepemimpinan PWI Pusat 2024, KTA nya mati dan menunggu Pengurus baru. Tapi karena dianggap masanya daluwarsa, KTAnya harus mulai lagi sebagai Anggota Muda. Artinya hak pilihnya gugur. Anak saya yang juga owner media daring ‘Sulseltoday’ terpaksa menyurutkan niatnya ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Wartawan Madya (Mudanya, sudah 5 tahun), yang dilaksanakan PWI Sulsel belum lama ini.
Kejadian ini justru saya timpakan pada anak saya karena telah lalai dan memang menyalahi aturan.
Saya tidak ngotot, padahal mungkin saya mampu lakukan. Namun mengingat posisi saya sebagai Ketua Dewan Penasehat di PWI Sulsel, malu rasanya gunakan otak kiri dengan berfikir ‘negatif thinking’.
Nah, kembali pada Konferprov PWI Sulsel, Kedua kandidat ini, nanti tetap akan ‘berangkulan’ tanpa sekat dari dua kubu yang berjuang dalam kotak suara.
Pertanyaannya, kenapa..?. Karena andai Amrullah Basri curang dan mau menang sendiri, mengapa mau berbesar hati menandatangani dan memberi ‘rekomendasi’ sebagai salah satu syarat kandidat pada saingannya, H Suwardi Tahir. Saya kira pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita, betapa Wartawan asal Fajar tetap menjunjung nilai ‘sipakatau’ . Itu saja. Selamat bertarung, adindaku berdua.
Yakinlah, takdir itu ada.
Ekh, hampir lupa pada Kandidat Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel, saudaraku HM Dahlan Abubakar, dan dinda Jurlan, yang keduanya ‘jebolan’ Harian pagi Pedoman Rakyat, saya ikut mendoakan semoga tercapai angan dan cita membenahi ‘ulah’ sejumlah Wartawan Pelanggar Kode Etik Jurnalistik dan Perilaku Wartawan, setelah terpilih nanti. Salamakki tapada salama.













