Katokkon termenung. Benar juga. Ia seperti cinta yang penuh kerinduan, penuh sakit namun dicari terus. Cavendis adalah keikhlasan, keteduhan, yang membuat cinta itu bisa terus dijalani.
Cerita tentang keduanya menyebar dari mulut ke mulut. Para perantau yang pulang kampung selalu membawa sambal Katokkon, lalu menyimpan pisang Cavendis di dapur. Mereka bercerita pada anak-anaknya:
“Rasa pedas ini, nak, seperti kehidupan. Kadang kita menangis, kadang kita terbakar masalah. Tapi jangan takut, selalu ada penawar, selalu ada kesejukan. Belajarlah dari Katokkon dan Cavendis.”
Anak-anak tertawa ketika lidah mereka kepedasan lalu diganjal pisang manis. Namun jauh di dalam hati, mereka mengerti pesan itu: benci tapi rindu, lalu meredam rindu.
Di pasar tradisional Rantepao, Katokkon dan Cavendis bahkan jadi pasangan sejati. Pedagang tahu, siapa membeli cabai pedas itu, pasti tak lama membeli pisang Cavendis pula.
“Seperti jodoh,” celetuk seorang pedagang. “Kalau ada Katokkon, harus ada Cavendis. Kalau ada rindu yang membakar, harus ada damai yang menyejukkan.”
Orang-orang tersenyum. Mereka mulai melihat bukan sekadar bahan makanan, tapi kisah cinta alam yang saling melengkapi.
Pada suatu malam, bulan purnama bersinar terang, Katokkon menatap Cavendis dari kejauhan. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia sadari sebelumnya: kekaguman.
“Cavendis,” katanya lirih, “kau bukan sekadar penawar. Kau adalah alasan aku dicintai. Tanpa dirimu, mungkin orang hanya akan membenciku. Tapi karena ada kau, mereka berani merindu padaku.”
Cavendis menunduk malu. “Dan tanpamu, Katokkon, aku hanya buah manis biasa. Kehadiranku berharga karena kau lebih dulu membuat orang menangis. Kau mengajari mereka arti rasa, aku mengajari mereka arti sabar.”
Sejak malam itu, keduanya tidak lagi saling meremehkan. Mereka paham, meski berbeda karakter, mereka ditakdirkan untuk berjalan beriringan.
Waktu berjalan, cerita Katokkon dan Cavendis menyeberang hingga ke kota-kota besar. Restoran ternama membuat menu khusus: Sambal Katokkon dengan Pisang Cavendis sebagai penutup. Orang-orang antre, rela meneteskan air mata karena pedas, lalu tersenyum lega setelah menggigit pisang.
Seorang penulis kuliner bahkan menuliskan, “Inilah metafora cinta sejati: Katokkon adalah benci tapi rindu, sementara Cavendis adalah meredam rindu. Bersama-sama, keduanya mengajarkan kita bahwa hidup tak hanya tentang rasa sakit, tapi juga tentang menemukan keseimbangan setelahnya.”
Maka, ketika kau berkunjung ke Tana Toraja, cobalah merasakan kisah itu sendiri. Ambil sesendok sambal Katokkon, biarkan pedasnya membakar hingga matamu berair. Setelah itu, gigitlah pisang Cavendis, rasakan bagaimana damainya kesejukan menyapu semua luka lidahmu.












