MENGAPA SAYA TETAP OPTIMIS TERHADAP PRABOWO

Bagi Indonesia, pesan ini sangat relevan. Tanpa lapisan teknokratis yang kuat, visi sebesar apa pun akan gagal diimplementasikan.

Maka memperkuat birokrasi bukan pilihan. Ia adalah keharusan.

-000-

Saya tetap optimis pada Prabowo bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Justru sebaliknya. Ini adalah keberanian untuk menyelami masalah, lalu tetap percaya pada kemungkinan perbaikan.

Namun, optimisme ini hanya akan berarti jika Prabowo berani memastikan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

Jika pelaku kekerasan terhadap aktivis dibiarkan tanpa kejelasan dan keadilan, maka semua rencana besar, sehebat apa pun, akan terasa kosong.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal program dan angka. Ia harus berdiri di atas rasa keadilan. Tanpa itu, kekuasaan akan kehilangan arah, dan kepercayaan rakyat perlahan hilang.

Keberhasilan ini pun bergantung pada kemampuan Prabowo mengonsolidasikan koalisi parlemen menjadi mesin pendukung kebijakan teknokratis.

Ini membuat ambisi sejarahnya tidak terbentur tembok kepentingan politik praktis yang seringkali menghambat akselerasi pembangunan.

Saya melihat kritik civil society bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin. Cermin yang memantulkan sisi yang tidak ingin kita lihat.

BACA JUGA:  Selamat Hari Pendidikan, Lorong Ruang Belajar yang Kerap Diabaikan

Dan jika seorang pemimpin berani bercermin, maka ia memiliki peluang untuk tumbuh.

Di situlah letak harapan saya.

Bahwa di tengah kegelisahan ini, masih ada ruang untuk belajar. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Dan masih ada kesempatan untuk meninggalkan warisan yang layak dikenang.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat mereka yang sempurna. Ia mencatat mereka yang mau berubah.

Ia mencatat mereka yang, ketika dikritik, tidak memilih membungkam, tetapi memilih mendengar. Tidak memilih marah, tetapi memilih membenahi. Tidak memilih tenggelam dalam pujian, tetapi berani menatap kenyataan.

Dan mungkin, justru di sanalah ukuran paling sejati dari seorang pemimpin akan ditentukan

Karena itu, optimisme saya pada Prabowo bukan optimisme yang naif. Itu optimisme yang lahir dari luka, dari data, dan dari kesediaan mengakui bahaya sebelum semuanya terlambat.***

Jakarta, 6 April 2026

REFERENSI

1. Seeing Like a State, James C. Scott, Yale University Press, 1998

2. The Fifth Risk, Michael Lewis, W. W. Norton & Company, 2018

BACA JUGA:  Inovasi penting dalam Sukan Sepak Takraw

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World