MENGAPA SAYA TETAP OPTIMIS TERHADAP PRABOWO

Negara besar tidak dibangun hanya dengan niat baik. Ia dibangun dengan sistem yang mampu mengoreksi dirinya sendiri.

Dan di titik inilah masa depan Prabowo akan ditentukan. Bukan terutama oleh besarnya janji. Bukan pula oleh kerasnya menghadapi kritik. Tetapi oleh kesediaannya membangun pagar koreksi di sekitar kekuasaan.

Sebab kekuasaan yang tidak dikoreksi akan mudah jatuh cinta pada dirinya sendiri. Dan ketika itu terjadi, ia mulai tuli terhadap realitas.

Sebaliknya, kekuasaan yang dikelilingi oleh akal sehat, data, kritik, dan keberanian untuk diuji, punya peluang jauh lebih besar untuk menghasilkan warisan yang nyata.

-000-

Dua buku di bawah ini dapat memperkaya wawasan kita atas permasalahan di atas.

Pertama, buku berjudul Seeing Like a State karya James C. Scott, Yale University Press, 1998

Buku ini mengingatkan kita tentang bahaya terbesar dalam pemerintahan modern: ilusi keteraturan.

Scott menunjukkan bagaimana negara sering kali menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi angka, peta, dan indikator. Tujuannya baik, untuk memudahkan pengelolaan. Namun dalam proses itu, banyak hal yang hilang.

BACA JUGA:  Tiga Gelas Kenangan

Kebijakan yang dirancang dari atas sering gagal karena tidak memahami kompleksitas di bawah. Negara melihat hutan, tetapi lupa melihat pohon.

Scott memberi banyak contoh kegagalan besar. Dari pertanian kolektif hingga perencanaan kota. Semua memiliki pola yang sama: kepercayaan berlebihan pada eksekutor pusat tanpa mendengar realitas lokal.

Relevansinya dengan Indonesia sangat kuat. Ketika presiden menerima laporan yang terlalu disederhanakan, maka keputusan yang diambil bisa meleset jauh dari kenyataan.

Di sinilah pentingnya sistem koreksi. Devil’s advocate dan think tank independen bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah penyeimbang. Mereka memastikan bahwa negara tidak terjebak dalam ilusi yang diciptakannya sendiri.

-000-

Buku kedua berjudul The Fifth Risk karya Michael Lewis, W. W. Norton & Company, 2018.

Michael Lewis dalam buku ini membuka sisi yang jarang terlihat dari pemerintahan: pentingnya eksekutor yang kompeten.

Ia menunjukkan bahwa banyak fungsi vital negara tidak terlihat oleh publik. Dari pengelolaan energi hingga kesiapsiagaan bencana.

Ketika posisi strategis diisi oleh orang yang tidak kompeten, risikonya bukan sekadar kebijakan yang buruk. Tetapi kegagalan sistemik yang bisa berdampak luas.

BACA JUGA:  Mengenang Awal Reformasi 1998 Dari Ruang Rawat Inap Kutonton Presiden Berganti

Lewis menyebutnya sebagai risiko yang tidak terlihat, tetapi paling berbahaya.

Buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya dengan visi. Ia membutuhkan eksekusi. Dan eksekusi bergantung pada kualitas orang-orang di dalam sistem.