Banyak pemerintahan justru menemukan bentuk terbaiknya bukan di awal, tetapi setelah melewati benturan pertama dengan kenyataan. Setelah kritik datang. Setelah euforia reda. Setelah kekuasaan dipaksa menatap cermin.
Karena itu, saya belum melihat titik ini sebagai akhir penilaian. Saya melihatnya sebagai masa ujian.
Masih ada waktu untuk membenahi sistem informasi. Masih ada waktu untuk memperkuat teknokrasi. Masih ada waktu untuk membedakan mana program yang layak diteruskan, mana yang harus dikoreksi, dan mana yang harus dihentikan.
Optimisme saya lahir bukan dari angan-angan, tetapi dari kesadaran bahwa sejarah politik selalu memberi ruang bagi koreksi, selama pemimpinnya masih mau belajar.
Karena itu, optimisme di sini bukan seruan untuk menutup mata, tetapi ajakan menimbang ulang: apakah kritik-kritik tajam tadi akan dijadikan alarm peringatan, atau justru diabaikan sampai berubah menjadi krisis.
-000-
Dalam skenario terbaiknya, Prabowo dapat menjadi sosok seperti Deng Xiaoping atau Lee Kuan Yew.
Bukan dalam arti meniru, tetapi dalam arti membangun fondasi. Fondasi yang kuat. Rasional. Berbasis data. Dan berpihak pada rakyat.
Namun itu tidak akan terjadi secara otomatis. Perlu dibentuk mekanisme koreksi.
Devil’s advocate. Sebuah sistem yang secara sengaja menguji setiap kebijakan. Mencari celahnya. Mengkritiknya sebelum ia dijalankan.
Devil’s advocate adalah peran yang sengaja dibentuk untuk menguji sebuah draft kebijakan publik Presiden.
Forum atau lembaga Devil’s Advocate ini justru diminta untuk menantang gagasan dominan, menguji asumsi, dan mengungkap kelemahan tersembunyi agar keputusan lebih matang, kritis, dan tahan terhadap bias serta kesalahan kolektif.
Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memperkuat.
Selain itu, perlu think tank independen. Di luar pemerintah. Yang bebas dari tekanan kekuasaan. Yang berani berpikir jangka panjang.
Think tank independen adalah lembaga riset nonpemerintah yang bebas dari kepentingan politik, menghasilkan analisis berbasis data, memberi rekomendasi strategis jangka panjang, serta menguji kebijakan secara kritis demi kepentingan publik luas.
Think tank ini sengaja dibuat dedicated untuk mengawal kebijakan publik Prabowo.
Devil’s advocate dan Think Tank independen ini perlu dibuat untuk melengkapi gagasan besar Prabowo, agar lebih tepat arah, sesuai dengan sentimen publik, dan dalam visi negara modern.
Tanpa ini, kebijakan akan selalu reaktif. Tidak strategis. Atau tak sejalan dengan prinsip
negara modern, yang kuat dalam rasionalitas ekonomi, juga sejalan dengan prinsip demokrasi dan hak asasi.












