Dan ketika mereka akhirnya menyadari, sering kali semuanya sudah terlambat.
-000-
Tiga hal di atas agaknya menjadi sumber kegelisahan banyak civil society. Tetapi saya tetap optimis pada Prabowo.
Mengapa Saya Tetap Optimis pada Prabowo? Optimisme saya bukan lahir dari kepatuhan pada kekuasaan, melainkan dari keyakinan bahwa seorang pemimpin besar justru diuji saat kritik datang.
Sejarah memberinya kesempatan untuk menjawabnya dengan kebesaran.
Pertama, Prabowo memiliki dorongan berprestasi yang luar biasa.
Ia bukan pemimpin yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang, penuh kegagalan, penuh luka.
Tiga kali ia kalah dalam pilpres. Namun ia kembali. Lagi dan lagi.
Itu bukan ambisi biasa. Itu adalah obsesi untuk meninggalkan jejak.
Dalam psikologi kepemimpinan, dorongan seperti ini disebut need of achievement. Dan dalam banyak kasus, inilah bahan bakar utama perubahan besar.
Saya percaya, seseorang yang telah mengorbankan begitu banyak untuk mencapai posisi ini, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengharumkan bangsanya.
Ada manusia yang mengejar jabatan demi kehormatan pribadi. Ada pula manusia yang setelah berkali-kali kalah tetap kembali, karena merasa sejarah belum selesai berbicara kepadanya.
Prabowo, dalam pembacaan saya, termasuk kategori kedua.
Ia telah menunggu terlalu lama untuk sampai di titik ini. Justru karena itu, saya sulit percaya ia akan puas hanya menjadi presiden biasa. Ia ingin dikenang. Ia ingin meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan hasrat untuk meninggalkan jejak sejarah, bila diarahkan dengan benar, dapat menjadi energi yang sangat besar bagi perubahan nasional.
-000-
Kedua, kelemahan utama bukan pada gagasan, tetapi pada tata kelola eksekusi.
Visi besar tidak pernah menjadi masalah bagi Prabowo Subianto. Justru di situlah kekuatannya. Ia berpikir dalam skala besar. Dalam lompatan. Dalam ambisi yang melampaui rutinitas birokrasi.
Namun sejarah pembangunan di banyak negara mengajarkan satu hal yang sunyi tetapi menentukan.
Visi besar tanpa mesin eksekusi yang presisi hanya akan menjadi retorika yang indah, tetapi rapuh.
Di sinilah letak kebutuhan paling mendesak.
Prabowo tidak perlu mengurangi visinya. Ia hanya perlu memperkuat lapisan teknokratis di sekelilingnya.
Lapisan ini bukan sekadar kumpulan ahli. Ia adalah sistem berpikir. Sistem yang memastikan bahwa setiap ide diuji sebelum dijalankan. Setiap kebijakan diukur sebelum diperluas. Setiap ambisi disesuaikan dengan kapasitas nyata negara.
Teknokrat yang dibutuhkan bukan hanya pintar. Tetapi juga berani.












