Ia tidak datang dengan teriakan. Ia datang sebagai bisikan. Sebagai kegelisahan yang perlahan menyebar di antara mereka yang bekerja di lapangan.
Ada kesan di kalangan civil society bahwa presiden mulai terisolasi dari fakta. Bahwa realitas yang keras, berdebu, dan sering kali tidak nyaman, telah berubah menjadi laporan yang rapi, bersih, dan menyenangkan saat tiba di meja kekuasaan.
Ambil contoh program MBG.
Gagasan program ini mencerahkan. Di atas kertas, eksekusi program ini terlihat berjalan baik. Angka tersaji. Target tercapai. Laporan menunjukkan distribusi lancar, manfaat dirasakan masyarakat.
Namun di lapangan, cerita yang beredar berbeda.
Ada daerah yang menerima bantuan tidak merata. Ada kualitas yang dipertanyakan. Ada keracunan. Ada pelaksanaan yang terburu-buru, tanpa kesiapan infrastruktur yang memadai. Ada isu bisnis MBG yang dikendalikan pihak tertentu.
Di beberapa titik, program ini lebih tampak sebagai keberhasilan administratif daripada keberhasilan substantif.
Yang hilang bukan niat baik. Yang hilang adalah kejujuran data.
Contoh lain adalah narasi tentang selesainya bencana di Sumatra.
Dalam pernyataan resmi, situasi disebut telah terkendali. Pemulihan disebut berjalan baik. Bahkan dalam beberapa forum, bencana itu seakan telah menjadi masa lalu.
Namun bagi warga yang masih tinggal di hunian sementara, bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian, bagi anak-anak yang masih belajar di ruang darurat, bencana itu belum pernah benar-benar selesai.
Bencana bukan hanya soal air yang surut atau tanah yang mengering. Bencana adalah trauma yang menetap. Adalah kehidupan yang belum kembali.
Ketika negara terlalu cepat menyatakan selesai, ia tanpa sadar meninggalkan mereka yang masih berjuang.
Di sinilah masalah utamanya.
Ini bukan soal presiden tidak peduli. Justru sebaliknya. Ini soal sistem informasi yang gagal membawa realitas secara utuh ke pusat kekuasaan.
Ketika seorang pemimpin hanya menerima kabar baik, maka keputusan yang diambil akan selalu terlalu optimis, terlalu cepat, dan sering kali terlalu jauh dari kenyataan.
Ia tidak lagi memimpin realitas. Ia memimpin versi realitas yang telah disaring.
Oleh sebagian, presiden dianggap tidak menerima informasi apa adanya, yang banyak buruknya di lapangan. Dan situasi seperti ini adalah musuh paling sunyi dalam kebijakan publik. Ia tidak terlihat. Ia tidak terasa. Tetapi perlahan, ia menggerus kualitas keputusan.
Civil society membaca ini sebagai alarm. Bukan untuk memberontak. Tetapi untuk menyadarkan.
Karena sejarah berulang kali menunjukkan, banyak pemimpin tidak jatuh karena niat buruk. Mereka jatuh karena terlalu lama hidup dalam informasi yang salah.












