Hanya berselang tiga hari setelah dikirim, tulisan tersebut dimuat di halaman satu Suara Karya. Saya sempat membaca dan sangat gusar. Saya yakin, Pak Basir akan mengetahuinya. Pasalnya, Pak Henny berlangganan suratkabar itu di kantor.
Dalam rapat bulanan tiap tanggal 25, salah satu agenda penting yang dibahas adalah kisah tulisan yang dimuat Suara Karya itu. Saya merasa seolah-olah duduk di kursi pesakitan. Dalam kesempatan itu, L.E.Manunua yang memimpin rapat langsung menyemprot saya.
’’Secara moral, seorang wartawan Pedoman Rakyat tidak boleh dan tidak dibenarkan mengirim tulisan ke media lain,’’ dengan mantap almarhum menandaskan.
Saya hanya diam seribu basa. Pak Basir kemudian menjelaskan bahwa kisah anak tertukar seperti itu sudah biasa terjadi di luar negeri, sehingga tidak dimuat di Pedoman Rakyat.
Ketika ada jedah sedikit, Saya mohon izin untuk sejenak berbicara.
’’Terus terang, saya meliput peristiwa dan menuliskannya untuk Pedoman Rakyat. Namun, setelah menunggu beberapa hari, ternyata tidak dimuat tanpa dijelaskan apa yang kurang dari tulisan itu. Saya pun mengirimnya ke Jakarta dan dimuat di halaman satu,’’ saya memaparkan.
Mendengar penjelasan saya, Pak Manuhua kembali berbicara.
’’Mungkin pihak redaksi perlu lebih jeli lagi melihat kadar suatu tulisan. Mengapa koran lain memuatnya di halaman satu, tentu tulisan itu menarik, sementara kita yang berada di depan mata peristiwa itu justru tidak memuatnya’’.
Begitu mendengar komentar Pak Manuhua, saya hanya kian tertunduk. Nyaris tidak pernah angkat pandang. Apalagi melirik ke Pak Basir. Tetapi, Pak Basir dan Pak Manuhua, termasuk sosok yang bisa memahami duduk persoalannya. Meskipun saya juga gamang kalau-kalau gara-gara kasus itu akhirnya dipecat dari Pedoman Rakyat. Ternyata tidak. Malah Pak Basir tetap memberi tugas peliputan khusus kepada saya kian sering saja.
(Bagian awal tulisan ini bersumber dari tulisan Maysir Yulanwar, cucu M.Basir dan penulis perkaya dengan pengalaman berinteraksi dengan almarhum). (M.Dahlan Abubakar, Makassar 15 Agustus 2025).
.












