M.Basir, Perempuan Ambon-Belanda Gagalkan Dieksekusi

M.basir
M.Basir (kanan) saat menghadiri peluncuran Satelit Palapa II di Cape Canaveral Florida, AS 9 Maret 1977. (Foto: Buku M.Basir: Lebih Berkuasa dari Para Penguasa, 2023).

Dalam hal mandiri, M.Basir punya cara yang jitu. Pernah, pada tahun 1978, Pedoman Rakyat menerima wartawan secara massal melalui sebuah pendaftaran yang berakhir dengan tes.

Yang lulus adalah saringan dari lebih seratus pelamar. Tetapi saya tidak termasuk dalam penerimaan berjamaah ini. Usai pendidikan dan latihan yang dilaksanakan beberapa hari di Balai Wartawan Ujungpandang – yang saya juga ikuti –, para wartawan yang baru diterima dilepas ke lapangan.

Saya masih ingat, ada seorang wartawati (dari tiga orang wartawati yang diterima), pernah diminta Basir ikut di mobilnya. Mobilnya kala itu, sedan kecil DD 31 warna merah. Rencananya, Pak Basir akan ke Jeneponto. Biasa, menengok masjid yang baru dibangunnya di Tamalate. Tiba di Takalar, mobil berhenti. Wartawati itu diturunkan. Basir minta kepada wartawati (baru) itu mencari berita di Pemkab Takalar. Setelah meliput, Basir berpesan agar kembali ke kantor. Sedan merah pun tancap gas ke Jeneponto.

Bagaimana kisah wartawati yang didrop seorang diri dengan tugas pertama ke luar kota itu? Kabarnya, dia sempat menangis. Bingung memikirkan bagaimana pulang ke Makassar. Namun sebagai wartawan, tentu dia sudah dibekali. Itulah cara Basir mendidik kemandirian wartawan dalam meliput.

BACA JUGA:  AB Iwan Azis dan Semangat Bela Negara

Sekitar awal tahun 1984, terjadi gempa bumi di Mamuju. Wartawan PR ketinggalan mobil rombongan Gubernur A.Amiruddin yang meninjau ke Mamuju. Suatu pagi, saya muncul di kantor. Basir sedang duduk di pojok ruangannya di Kantor Redaksi Jl.A.Mappanyukki. Saya berjalan merunduk dengan harapan, kepala tak terlihat oleh ’bos’ yang lagi duduk di kursinya di pojok ruangan dalam kantor.

’’Zendy, siapa yang masuk itu?,’’ terdengar teriakan kecilnya, ketika baru saja pantat saya menyentuh kursi kayu di depan sang sekretaris redaksi. Ternyata, beliau mendengar suara langkah saya yang terayun pelan memasuki ruangan sekretaris redaksi.
‚’Dahlan, Pak!,’’ sahut Zendy yang punya nama asli Jayandi Putri Manuhua, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta yang memutuskan balik ke Makassar dan menjadi sekretaris di Kantor Redaksi Pedoman Rakyat sebelum menggaet sarjana.

‚’Suruh masuk!,’’ perintah M.Basir.
Dengan hati berdebar-debar penulis mengayun langkah, menyibak daun pintu kayu pembatas antara kamar kerjanya dengan kamar sekretaris.
’’Gerangan tugas apa lagi yang bakal diterima hari ini Atau, kesalahan apa lagi yang perlu mendapat teguran,’’ saya menggumam sedikit gemetar. Penulis menarik kursi di depan meja Pak Henny, Wakil Pemred. Pak Basir masih sibuk memperhatikan catatan di secarik kertas di depannya.