M.Basir, Perempuan Ambon-Belanda Gagalkan Dieksekusi

M.basir
M.Basir (kanan) saat menghadiri peluncuran Satelit Palapa II di Cape Canaveral Florida, AS 9 Maret 1977. (Foto: Buku M.Basir: Lebih Berkuasa dari Para Penguasa, 2023).

“Saya cuma minta cerutu bapak,” lanjut Basir serius. Wartawan senior ini memang dikenal sebagai perokok berat.
Permintaan sebagai duta besar di Filipina pun ditampiknya. Ia tak ingin surat kabarnya mati lantaran menerima tawaran itu.

Ia begitu menghargai kejujuran, bahkan ketika kejujuran itu mengharuskan ia membuat banyak hati tidak puas, bahkan kecewa. Tapi ini yang membuat Basir tampil sebagai manusia yang paling merdeka. Tak ada yang mampu menunjukinya dengan kata rendah sedikit pun.

Sebagian orang menganggap ini berlebihan. Bahkan tak sedikit yang menganggap beliau bodoh, lantaran tidak memanfaatkan kesempatan. Tapi Basir memang lain. Dengan ‘kebodohannya’ ini, ia lebih wali kota daripada wali kota sebenarnya. Ia lebih gubernur daripada gubernur sesungguhnya.

Sehingga, jangan heran, ketika itu setiap pemilihan bupati, beliau selalu dimintai persetujuannya. Beliau berkuasa di atas para penguasa.

Dan, karena kesederhanannya, beliau berkuasa tanpa sedikit pun menampakkan kesombongan dan keberkuasaannya.
Ia pecinta seni dan budaya yang berkelas.

Goresan gambarnya terabadikan di logo Kodam XIV Hasanuddin ketika itu, dan Kodam VII Wirabuana sekarang. Lusinan buku bertuliskan huruf Lontara pun pernah ia buat, termasuk Pedoman Desa; satu-satunya koran bertuliskan huruf Lontara, khusus disebarkan di desa-desa.

BACA JUGA:  MENGAWAL PESAN PRESIDEN: MEMBENAHI BUMN, TAK MEMBURU TANTIEM, DAN FILOSOFI POWER OF GIVING

Jauh dari riuh politik, Basir lebih memilih menenggelamkan diri ke dalam cintanya sebagai wartawan dan korannya Pedoman Rakyat. Profesi yang menjelaskan dengan begitu baik tentang siapa sosok seorang Basir; profesi yang membawa dirinya keliling dunia, seperti cita-cita kecilnya dulu.

Diundang dari berbagai belahan negeri untuk melihat langsung dan bertukar pikiran tentang apa saja.
Basir adalah cerita panjang yang tak akan pernah habis diurai di halaman terbatas ini.

Dalam sakitnya yang payah akibat lever yang mendera, beliau masih saja menulis dan mengatur pemberitaan. Dalam catatan tangannya ia menulis: ”Ada dua tugas wartawan: mewartakan berita dan menyingkap kebenaran. Dan kita sebagai insan pers, dimuliakan oleh tugas yang kedua.”

M.Basir meninggal di RS Akademis, 14 Oktober 1985 pada usia 62 tahun. Beliau dikaruniai 10 anak (istri pertama 9, dan dari istri kedua 1) dan puluhan cucu, serta belasan cicit. Dan salah satu cucunya adalah Agus Anwar Moka (dari Yulia Basir dan Anwar Rivai Moka): salah satu calon bupati Jeneponto periode 2008-2013. Kepadamu, cinta kami selalu.

BACA JUGA:  Jika JK Menjadi Pemimpin Pemerintahan Sementara di Gaza

Tangan Dingin

Ketika saya menjadi wartawan Pedoman Rakyat akhir 1976, polesan M.Basir dalam membimbing menjadi seorang jurnalis sejati tidak terelakkan. Dia termasuk figur bertangan dingin dalam membentuk wartawan yang berkarakter. Cara mendidiknya belum tertandingi oleh sosok lain pada zamannya.