Lebaran dan Baju Baru

“Ya Allah… jangan biarkan saya kembali seperti dulu,” bisik saya pelan.
Air mata hampir jatuh, tapi saya tahan.

Setelah itu, orang-orang mulai saling bersalaman. Suara “mohon maaf lahir dan batin” terdengar di mana-mana. Saya pun ikut bersalaman dengan orang di kanan dan kiri.

Ada kehangatan yang tidak dibuat-buat.

Kami berjalan keluar dari masjid. Matahari sudah naik lebih tinggi. Jalanan semakin ramai. Namun hati saya terasa lebih tenang dari sebelumnya.

Kami kembali ke motor.
Perjalanan pulang dimulai.
Namun kali ini berbeda.

Saya tidak lagi bertanya sebanyak tadi. Bukan karena semua sudah terjawab sempurna, tapi karena saya sudah tahu arah jawabannya.

Motor melaju pelan.
Saya kembali berbicara dengan diri sendiri, tapi dengan nada yang lebih tenang :

“Saya tidak harus sempurna…”
“tapi saya harus berusaha menjaga.”
Saya melewati jalan yang berbeda, rumah yang hampi mirip, bahkan mungkin anak kecil yang sama. Tapi rasanya berbeda.

Karena yang berubah… bukan jalannya.
Tapi cara saya melihatnya.
Kami sampai di depan rumah.
Saya mematikan motor.
Sunyi lagi.

BACA JUGA:  Remaja Jadi Pembunuh, Bukti Kegagalan Negara

Tapi kali ini… bukan sunyi yang kosong.

Melainkan sunyi yang penuh makna.

Saya turun, lalu berhenti sejenak sebelum masuk.
“Baiklah…”kata saya dalam hati,
“Ramadan mungkin sudah pergi…”
“…tapi semoga ia tidak pergi dari dalam diri saya.”
Saya melangkah masuk.

Dengan hati yang membawa sesuatu yang baru
bukan dari pakaian,
tapi dari perjalanan.

Parang Tambung, 22 Maret 202621