Lebaran dan Baju Baru

“Baik…”
“Memperbaiki hubungan dengan Allah… dan dengan manusia.”

“Tapi… apakah saya benar-benar berubah?”

“Atau hanya rajin… karena suasana?”

“Indah…”
“Menjadikan akhlak sebagai keindahan hidup.”
“Tapi… apakah keindahan itu akan bertahan?”
“Atau hanya singgah… lalu pergi?”

Saya tersenyum kecil di balik helm. Senyum yang tidak sepenuhnya ringan.

“Ternyata…” saya berbisik dalam hati,
“yang paling sulit bukan menahan lapar dan haus…”
“tapi menjaga hati agar tetap hidup setelah Ramadan pergi.”

Motor kami melaju lebih jauh. Jalan semakin padat. Semua orang seperti menuju satu arah masjid, tempat di mana doa-doa akan dipanjatkan, dan mungkin… tempat di mana hati diuji.

Tiba-tiba…

Seperti ada suara yang muncul dari dalam diri saya sendiri. Tidak keras, tapi jelas.

“Jadilah hamba Allah yang Rabbani (taat sepanjang waktu), jangan menjadi hamba Ramadhan (hanya taat saat Ramadhan saja).”

Saya terdiam.
Tangan saya sedikit mengendur di gas.

Kalimat itu seperti menampar… tapi dengan lembut.

“Iya…” saya menjawab pelan dalam hati.
“Kalau semua ini berhenti hari ini…”
“berarti selama ini saya hanya singgah di Ramadan.”
Saya menelan pelan.
“bukan benar-benar berubah.”

BACA JUGA:  HM Daeng Patompo dan Angka-Angka Tahun yang Tidak Selaras

Angin pagi terasa berbeda sekarang. Tidak lagi sekadar dingin, tapi seperti membawa kesadaran.

Saya kembali bertanya.
“Kalau mau sombong… untuk apa?”
“Fir’aun sudah lebih dulu… dan kesombongannya justru menghancurkannya.”

“Kalau mau bangga dengan harta?”

“Qarun juga sudah lebih dulu… dan hartanya justru menelannya.”
Saya tertawa kecil, getir.
“Jadi… apa yang tersisa untuk dibanggakan?”

Jawabannya datang pelan :
“Tidak banyak…”
“mungkin hanya amal yang ikhlas.”

Motor mulai mendekati masjid tujuan. Dari kejauhan, lautan manusia sudah terlihat. Kendaraan terparkir rapi. Suara takbir semakin dekat, semakin kuat, seperti memanggil.

Namun sebelum benar-benar sampai, saya kembali bertanya kali ini lebih dalam, lebih jujur :

“Apakah saya masih akan senang memberi setelah ini?”
“Apakah saya masih akan sabar seperti kemarin?”
“Apakah saya masih akan membuka Al-Qur’an… tanpa harus menunggu Ramadan?”
“Apakah saya masih akan datang ke masjid… saat suasana sudah sepi?”

Tidak ada jawaban.
Tapi ada rasa.

Rasa ingin bertahan.
Rasa ingin menjaga.
Rasa takut kehilangan apa yang baru saja diraih.

BACA JUGA:  KETIKA ATURAN DIGUGAT OLEH REALITAS

Saya memperlambat motor. Memasuki halaman masjid.
Mesin dimatikan.
Sunyi sejenak.

Saya tidak langsung turun.
Saya duduk diam, menatap ke depan.

“Jadi… Idul Fitri ini apa sebenarnya?” tanya saya sekali lagi.

Dan kali ini… jawabannya terasa lebih jernih :
“Ini bukan akhir.”
“Ini bukan perayaan semata.”

“Ini adalah cermin…”
“…apakah saya benar-benar kembali…”
“…atau hanya merasa kembali.”

Saya membuka helm perlahan. Udara pagi menyapa wajah tanpa penghalang.
Langit sudah terang.

Saya menarik napas panjang.

‘Baiklah…” kata saya dalam hati, pelan… seperti sebuah janji,

“Ramadan mungkin sudah pergi…”

“…tapi semoga ia tidak benar-benar meninggalkan saya.”

Saya turun dari motor.
Melangkah menuju masjid.
Dengan hati yang tidak lagi sama.

Saya mencari tempat, lalu duduk.

Takbir masih menggema. Hati saya perlahan ikut tenggelam dalam suasana.
Sholat Id pun dimulai.

Kami berdiri. Takbir pertama terasa berbeda. Bukan sebatas gerakan, tapi seperti pengakuan bahwa kita kecil di hadapan-Nya.

“Allahu Akbar…”
Setiap takbir tambahan seperti mengetuk hati. Mengingatkan bahwa sebulan ini bukanlah akhir, tapi bekal.

BACA JUGA:  Lupa pada Akar, Terkurung di Kursi

Saya rukuk. Saya sujud.
Di sujud itu, ada rasa yang sulit dijelaskan antara syukur dan takut.