Lebaran dan Baju Baru

Jawabannya datang pelan :
“Tidak banyak…”
“mungkin hanya amal yang ikhlas.”

Motor mulai mendekati masjid tujuan. Dari kejauhan, lautan manusia sudah terlihat. Kendaraan terparkir rapi. Suara takbir semakin dekat, semakin kuat, seperti memanggil.

Namun sebelum benar-benar sampai, saya kembali bertanya kali ini lebih dalam, lebih jujur :

“Apakah saya masih akan senang memberi setelah ini?”
“Apakah saya masih akan sabar seperti kemarin?”
“Apakah saya masih akan membuka Al-Qur’an… tanpa harus menunggu Ramadan?”
“Apakah saya masih akan datang ke masjid… saat suasana sudah sepi?”

Tidak ada jawaban.
Tapi ada rasa.

Rasa ingin bertahan.
Rasa ingin menjaga.
Rasa takut kehilangan apa yang baru saja diraih.

Saya memperlambat motor. Memasuki halaman masjid.
Mesin dimatikan.
Sunyi sejenak.

Saya tidak langsung turun.
Saya duduk diam, menatap ke depan.

“Jadi… Idul Fitri ini apa sebenarnya?” tanya saya sekali lagi.

Dan kali ini… jawabannya terasa lebih jernih :
“Ini bukan akhir.”
“Ini bukan perayaan semata.”

“Ini adalah cermin…”
“…apakah saya benar-benar kembali…”
“…atau hanya merasa kembali.”

BACA JUGA:  Pengantar Buku Riset Internasional LSI Denny JA: MENENTUKAN KEMAJUAN NEGARA MELALUI INDEKS TATA KELOLA PEMERINTAHAN

Saya membuka helm perlahan. Udara pagi menyapa wajah tanpa penghalang.
Langit sudah terang.

Saya menarik napas panjang.

‘Baiklah…” kata saya dalam hati, pelan… seperti sebuah janji,

“Ramadan mungkin sudah pergi…”

“…tapi semoga ia tidak benar-benar meninggalkan saya.”

Saya turun dari motor.
Melangkah menuju masjid.
Dengan hati yang tidak lagi sama.

Saya mencari tempat, lalu duduk.

Takbir masih menggema. Hati saya perlahan ikut tenggelam dalam suasana.
Sholat Id pun dimulai.

Kami berdiri. Takbir pertama terasa berbeda. Bukan sebatas gerakan, tapi seperti pengakuan bahwa kita kecil di hadapan-Nya.

“Allahu Akbar…”
Setiap takbir tambahan seperti mengetuk hati. Mengingatkan bahwa sebulan ini bukanlah akhir, tapi bekal.

Saya rukuk. Saya sujud.
Di sujud itu, ada rasa yang sulit dijelaskan antara syukur dan takut.

Syukur karena dipertemukan dengan Ramadan.
Takut… kalau semua itu tidak bertahan.

Sholat selesai.

Kami duduk kembali, mendengarkan khotbah. Suara khatib mengalun tegas namun tenang, mengingatkan tentang makna Idul Fitri, tentang kembali kepada fitrah, tentang menjaga amal setelah Ramadan.

BACA JUGA:  Ķetua DPRD Makassar Dilantik, Supratman : Titip Doa, Semoga Bisa Laksanakan Amanah ini

Saya menunduk.
Beberapa kalimat terasa seperti menjawab pertanyaan saya sejak tadi.

Tentang keikhlasan.
Tentang konsistensi.
Tentang menjadi hamba Allah sepanjang waktu.

Saya mengangguk pelan.
“Ini jawabannya….” kata saya dalam hati.
B. BKhotbah selesai. Doa dipanjatkan. Ribuan tangan terangkat. Saya ikut mengangkat tangan.