_By : Rahman Rumaday_
NusantaraInsight, Makassar — Sabtu, 21 Maret 2026 M/1 Syawal 1447 H, pukul 06.00 pagi. Saya berdiri sejenak di depan rumah, menatap langit yang masih menyimpan sisa-sisa gelap. Takbir telah lebih dulu bangun dari manusia menggema dari masjid ke masjid, dari jalan raya ke jalan raya, dari lapangan ke lapangan, menembus dinding-dinding rumah, mengetuk hati siapa saja yang mau mendengar.
Saya menyalakan motor. Suaranya memecah sunyi pagi, seperti tanda bahwa perjalanan akan dimulai bukan hanya perjalanan menuju sebuah masjid yang sudah saya rencanakan sejak kemarin, untuk melaksanakan sholat Idul Fitri., tapi mungkin juga perjalanan yang lebih dalam, menuju diri sendiri.
Seorang adik naik di belakang. Kami tidak banyak bicara. Entah kenapa, pagi itu terasa seperti pagi yang tidak biasa.
Saya menarik gas perlahan.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Takbir mengalun panjang di udara. Orang-orang menyebut hari ini sebagai hari kemenangan. Hari bahagia. Hari kembali.
Tapi di dalam dada saya, ada ruang yang justru terasa kosong.
“Mengapa sunyi?” saya bertanya dalam hati.
Motor melaju menembus jalan yang masih setengah sepi. Angin pagi menyentuh wajah, dingin, seolah ingin mengingatkan bahwa ini bukan pagi biasa. Di kiri kanan, rumah-rumah mulai terbuka. Orang-orang keluar dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian kecil, memamerkan baju baru, tertawa tanpa beban.
Saya memperhatikan semuanya, tapi pikiran saya tidak sepenuhnya di jalan.
“Jadi… ini sudah selesai?” tanya saya dalam hati, pelan… tapi dalam.
Ramadan… yang kemarin begitu hidup.
Malam-malam yang panjang.
Masjid yang penuh.
Al-Qur’an yang sering dibaca.
Tangan yang ringan memberi.
Hati yang lebih mudah menangis.
Hati yang mudah memaafkan
Semua itu… kini seperti menjauh.
Tidak pergi dengan gaduh, tapi menghilang perlahan, meninggalkan jejak yang terasa… tapi tak terlihat.
Motor terus melaju. Kami memasuki jalan yang lebih ramai. Orang-orang berjalan kaki menuju masjid, sebagian saling menyapa, sebagian menunduk dalam diam, mungkin seperti saya sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Di sebuah tikungan, saya melihat seorang anak berdiri di depan rumahnya. Pakaiannya sederhana. Tidak baru. Tapi ia tersenyum… lebar.
Saya memperlambat motor.
Hati saya seperti disentuh sesuatu.
“Kalau hari ini soal pakaian baru…” batin saya mulai berbicara lagi,
“lalu bagaimana dengan dia?”
Saya terdiam, meski roda terus berputar.
“Bukankah ini bukan tentang itu?” saya mencoba menjawab diri sendiri.












