Lulusan Perwira Prajurit Karier (PPK) Angkatan I tahun 1993 dengan jabatan terakhir Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kedaulatan dan Kemaritiman itu mengharapkan para alumni pesantren IMMIM yang menerima amanah kepengurusan agar jadilah wajah Islam yang meneduhkan. Wajah pesantren yang mencerahkan. Dan, wajah kebangsaan yang mempersatukan.
“Jadilah generasi yang kuat dalam prinsip, lentur dalam pendekatan, dan teguh dalam pengabdian,” kata Ketua Program Studi Keamanan Maritim Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan (Unhas) (2013-2016) tersebut.
Ruang Peradaban
Abdul Rivai Ras yang termasuk salah seorang pelopor pendiri Universitas Pertahanan itu pada bagian lain pidatonya mengemukakan, lebih dari sekadar rumah, Indonesia pun harus kita perjuangkan menjadi ‘jannatuna’ –surga kita bersama.
Dalam khazanah Islam, surga bukan hanya tempat tinggal yang indah, melainkan juga ruang peradaban yang paripurna,
“Di sana tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Tidak ada rasa takut. Orang-orangnya saling menyapa. Saling bersalaman. Saling bersilaturahim,” ungkap Staf Khusus KSAL (2024-sekarang) dalam pidatonya bertajuk “Menerima kepribadian dan watak kebangsaan dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai ‘Baituna’ dan ‘Jannatuna’ bagi setiap anak bangsa”.
Alquran menggambarkan para penghuni surga hidup dalam kedamaian batin, dan bahkan Allah swt sendiri menyampaikan salam kepada mereka. “Salamun qawlan min rabbir Rahim’ (QS Yasin: 58). Surga adalah tempat, saat relasi manusia terbangun di atas kasih sayang, bukan kecurigaan. Ketika perbedaan tidak melahirkan permusuhan. Saat setiap jiwa merasa aman, dihormati, dan dimuliakan.
“Dan surga juga digambarkan sebagai ruang ekologis yang indah dan seimbang. Ia dialiri sungai-sungai yang jernih. Dipenuhi buah-buahan yang baik dan menyehatkan. Alamnya subur, tertata, dan memberi kehidupan. Tidak ada kerusakan. Tidak ada pencemaran. Tidak ada keserakahan,” ujar lulusan S-1 Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Unhas (1992) tersebut.
Lulusan S-2 Manajemen Strategik Universitas Pembangunan Nasional Veteran (2000), S-2 Kajian Strategik Pertahanan Keamanan UI (2001), dan S-2 Ilmu Politik Hubungan Internasional UI (2003) ini mengatakan, Indonesia sebagai ‘jannatuna’ bukan berarti negeri tanpa masalah.
Surga di sini bukan ketiadaan ujian, melainkan keadilan yang menang atas konflik. Kehidupan yang layak, adil, dan bermartabat. Kesejahteraan yang dirasakan bersama, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ruang sosial, tempat rakyat bisa hidup rukun, saling menghormati, dan saling menjaga.












