Dalam hati saya bergumam, “Saya tidak punya kisah bisnis, saya hanya guru mengaji di lorong.”
Tiba-tiba si ibu menatap saya dan bertanya, “Pak Maman, usahanya apa?”
Saya tersenyum, dan spontan menjawab “Cuma guru mengaji di lorong, Bu.”
Teman saya menimpali cepat, “Jangan salah, Bu. Pak Maman ini banyak bantu orang, banyak anak-anak tinggal sama dia. Banyak inovasi dan ide-ide gilanya tapi keren lah pokoknya.” Kata teman saya itu yang juga seorang pengusaha
Si ibu mengangguk, matanya teduh.. “Wah, luar biasa. Kita yang disebut pengusaha pun belum tentu bisa sebaik itu.”
Saya terdiam. Rasanya hangat, tapi juga berat. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hati saya berucap. “Ah, biasa saja, Bu,” ujar saya. “Saya cuma meneruskan warisan kebiasaan baik orang tua di kampung.”
“Saya cuma menyalin kebiasaan itu, bukan menciptakan hal baru.”
Kebaikan yang tulus tidak perlu dijelaskan, cukup dijalankan. Kata Umar bin Khattab, *_“Orang yang paling beruntung adalah dia yang amalnya tersembunyi dari pandangan manusia.”_*
Si ibu menatap lekat, lalu berkata kembali,
*_“Berarti pak maman tidak hanya mewarisi kebiasaan, tapi juga keikhlasan.”_*
Saya terdiam. Kalimat itu seperti angin sejuk yang menampar lembut dada. Sekaligus membahayakan saya jika saya besar kepala dan membanggakan diri atas pujian itu.. Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…
*_“Ikhlas itu rahasia antara manusia dan Tuhannya. Orang lain tidak tahu apakah amal itu benar-benar karena Allah atau karena ingin dipuji.”_* ~ Buya Hamka
Saya menatap air botol di depan saya, bening dan jujur.
Jalaluddin Rumi pernah berucap, *_“Apa pun yang lahir dari hati akan sampai ke hati.”_*
Mungkin itu sebabnya, kebiasaan baik orang tua di kampung dulu masih hidup hingga kini karena mereka melakukannya dengan hati.
Saya hanya sedang mencoba melanjutkan napas itu, agar tak berhenti di generasi saya.
Jam di layar HP saya sudah menunjukkan pukul 21.40 saya harus pamit pulang untuk istirahat lebih awal biar rutinitas seperti tiga malam tetap terjaga.
“Hiduplah sederhana, tapi dengan makna.” Buya Hamka pernah menulis, *_“Jangan takut menjadi kecil di mata manusia, karena yang besar di sisi Allah adalah keikhlasanmu.”_*
Dan saya tersenyum di atas motor yang melaju pelan menuju Daeng Tata III tempat dimana rumah kecil saya menanti.
Barangkali memang itu cukup yakni menjadi kecil tapi berguna, menjadi senyap tapi menyalakan cahaya di lorong-lorong kehidupan.
Saya tak ingin dikenang karena nama. Cukuplah karena kebermanfaatan kecil yang lahir dari cinta.












