Tak berhenti di bidang pendidikan dan teknologi, ia juga mengabdi pada masyarakat melalui peran sosial dan budaya.
Dr. Yusran berperan sebagai Bendahara Perpani Bulukumba (panahan), anggota pengurus KKBL Kajang, serta pernah mengemban tugas di Panwaslu Kecamatan Ujung dan Bawaslu Kabupaten Bulukumba.
Yang menarik, keilmuan Dr. Yusran menjangkau berbagai disiplin dengan cepat, dari sosial, budaya, sistem digital, hingga keamanan siber.
Tak heran, di tingkat nasional ia kerap menjadi fasilitator pelatihan cyber-security dan sistem keamanan digital, sekaligus pembicara reflektif dalam forum-forum pendidikan.
Ini menunjukkan kapasitasnya sebagai pemikir holistik yang mampu menghubungkan berbagai domain ilmu.
Meskipun telah menorehkan banyak prestasi dan penghargaan, ia selalu hadir di tengah komunitas sebagai pembelajar.
“Apapun jabatan, pangkat, dan gelar kita, jika bukan pada tempatnya, tanggalkan semua. Kita duduk tanpa perbedaan,” ungkapnya.
Jejak profesional Yusran di dunia pendidikan IT terbilang gemilang. Ia meraih gelar Doktor Media Pembelajaran dari UIN Alauddin Makassar (2024).
Dalam penelitian doktoralnya, ia mengembangkan Multimedia Interaktif berbasis Adobe Animate untuk pembelajaran Al-Qur’an Hadis di kelas XII.
Antusiasme pada pemrograman juga mendorong ia dan anggota komunitas Hacker-82 mengembangkan aplikasi antivirus pertama bernama AnVir TKJ SMK Pepabri Bulukumba pada 2013.
Pasca itu, komunitasnya melahirkan proyek-proyek kreatif : pembentukan komputer portabel dari kayu dan PC berbahan paralon PVC berbentuk Kapal (implementasi Pinisi sbagai simbol daerah), hingga aplikasi penggerak kursor komputer menggunakan gerakan mata.
Meski memiliki prestasi gemilang, rekan-rekan menggambarkan Yusran sebagai sosok rendah hati.
Ia sering menegaskan bahwa keberhasilan guru tidak diukur dari gelar, melainkan dari dampak terhadap siswa.
Hal ini terlihat ketika ia membentuk eskul IT School di SMAN 15 Bulukumba; forum tersebut ia rancang bukan hanya untuk mengajar teknologi, tetapi juga menumbuhkan karakter kolaboratif di kalangan siswa.
Bukti nyata dampak keberadaannya di Bulukumba terekam jelas. Penghargaan dan pujian yang baik layak tersemat disetiap langkah pengabdiannya :
“Bulukumba patutnya bangga dengan kehadiran sosok cendekiawan, inovatif dan aktivis seperti Dr. Muhammad Yusran M.Kom.”
Bagi sekitarnya, yang paling membekas dari sosoknya bukan hanya dari deretan gelar atau jabatannya, melainkan dari karakternya yang memanusiakan manusia.
Ia tidak pernah menonjolkan diri. Dalam berbagai forum, ia memilih duduk bersama, mendengarkan, dan mengajak semua peserta setara.
Yang istimewa, di balik semua itu, Dr. Yusran justru berusaha menyembunyikan identitas dirinya. Ia tak pernah merasa perlu menunjukkan jabatan atau deretan gelar yang disandang.
Dalam berbagai forum, ia lebih sering hadir sebagai rekan diskusi, bukan tokoh utama. Kerendahan hati inilah yang justru menjadi kekuatannya, membuat setiap interaksi dengannya terasa setara dan membangun.
Dr. Yusran juga dikenal telah membina banyak kader muda yang kini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kompeten, dan sukses, baik di bidang pendidikan, IT, bisnis, maupun pengabdian sosial.
Ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menyalakan semangat belajar dan mempercayai potensi anak-anak muda.
Beberapa di antaranya bahkan telah menjadi pelatih, pendidik, pembuat aplikasi, hingga pembicara tingkat provinsi.
Ini adalah warisan terbesarnya : membentuk generasi penerus yang berdaya.
“Menjadi pendidik hebat tidak harus tampil hebat. Yang penting adalah berdampak dan memberdayakan,” pungkasnya.












