Di sini, demonstrasi kembali menjadi bumerang: bukannya menumbuhkan solidaritas sosial, malah menciptakan jarak antara demonstran dengan masyarakat luas.
Ketiga, dari sisi politik. Tidak jarang demonstrasi yang dimulai dari niat murni ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu. Massa yang berteriak menuntut keadilan, kadang hanya menjadi pion dalam permainan elit.
Sementara mereka yang berada di lapangan berpanas-panasan, berteriak, bahkan terluka, para elit politik yang menungganginya duduk nyaman di kursi kekuasaan. Ironinya, setelah kepentingan elit itu tercapai, demonstran dibiarkan begitu saja tanpa ada perubahan nyata bagi hidup mereka. Inilah bentuk paling nyata dari demonstrasi yang menghancurkan diri sendiri: suara rakyat dijadikan alat, tetapi rakyat itu sendiri tetap berada dalam lingkaran penderitaan.
Fenomena ini diperparah dengan hadirnya media sosial. Setiap demonstrasi kini tidak hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga di dunia maya.
Sering kali, framing di media sosial memperkeruh suasana. Ada potongan video provokatif yang diunggah tanpa konteks, ada foto yang dimanipulasi, ada narasi yang sengaja diperuncing.
Akibatnya, demonstrasi bukan lagi forum menyampaikan aspirasi, tetapi arena adu citra dan propaganda. Di sini, sekali lagi, demonstrasi menghancurkan dirinya sendiri: pesan utama tidak sampai, justru yang tersisa hanyalah kebisingan digital.
Lalu, mengapa demonstrasi bisa jatuh pada titik penghancuran diri ini? Ada beberapa penyebab yang bisa dicermati.
Pertama, lemahnya pemahaman tentang tujuan demonstrasi itu sendiri. Banyak orang turun ke jalan hanya karena ikut-ikutan, bukan karena memahami substansi tuntutan.
Kedua, lemahnya kepemimpinan dalam aksi. Tanpa ada pemimpin yang jelas dan bertanggung jawab, massa mudah terprovokasi.
Ketiga, adanya pihak-pihak yang sengaja memancing kericuhan, baik dari kalangan eksternal maupun internal.
Keempat, kurangnya kemampuan mengelola strategi komunikasi, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak terserap dengan baik oleh publik.
Padahal, jika kita kembali pada makna dasarnya, demonstrasi adalah seni berbicara kepada kekuasaan.
Ia adalah cara rakyat yang tak memiliki akses langsung ke kursi elit, untuk menyuarakan kegelisahan mereka.
Namun, ketika demonstrasi kehilangan arah, yang terjadi bukan lagi suara rakyat, melainkan suara kekacauan. Ia menghancurkan dirinya sendiri, bahkan sebelum mencapai tujuan yang diharapkan.
Kita perlu merenungkan ulang: apakah setiap ketidakpuasan harus selalu diekspresikan melalui demonstrasi?












