*Di Kota Daeng: Awal Baru, Perjuangan Baru*
Setibanya saya di Fakfak, tanpa menunda waktu, saya langsung memesan tiket kapal menuju Makassar. Perasaan saya campur aduk antara harapan besar dan kekhawatiran akan perjalanan yang panjang. Ketika kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Makassar, sosok Abang Rahman sudah menunggu dengan senyum hangatnya di tengah kerumunan orang. dia sendiri yang turun menjemput saya, menggenggam erat tangan saya seolah mengatakan pada saya bahwa perjalanan ini baru saja dimulai. Kehadirannya di pelabuhan memberi kekuatan baru, membuat saya yakin bahwa langkah-langkah ke depan akan selalu ditemani oleh doa dan dukungan dari orang-orang yang percaya pada mimpi saya. Kemudian Abang Rahman langsung membawa saya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang dia gunakan untuk menampung anak-anak dari kampung-kampung terpencil.
Awalnya, harapan untuk bisa kuliah sempat terasa jauh karena pendaftaran di berbagai kampus sudah ditutup. Namun, Abang Rahman tidak pernah menyerah. Abang Rahman mendapat informasi bahwa Ma’had Al-Birr masih membuka pendaftaran untuk D4 jurusan Agama dan Bahasa Arab. Tanpa membuang waktu, dia mengajak saya menemui temannya yang sedang kuliah di Al-Birr untuk memastikan informasi tersebut. Sayangnya, kabar dari temannya menyebutkan bahwa pendaftaran sudah tutup. Meski begitu, Abang Rahman tidak kehilangan akal. Abang Rahman mengajak saya ke masjid disana kami beristirahat sejenak di sebuah masjid daerah Minasa Upa, kebetulan di Masjid tersebut ada temannya yang tinggal disana, dan di sana, sambil bercanda ringan, Abang Rahman bilang sama saya, “Bagaimana kalau saya daftarkan saja di Al-Birr? Saya yakin masih ada cara.” Setelah diskusi di masjid kami kembali ke rumah lalu saya di buatkan rekomendasi oleh Abang Rahman esok harinya saya diantar ke Al-Birr bertemu langsung dengan Direktur Ma’had Al-Birr Ust Lukman Abd Shomad. Betapa terkejutnya saya ketika melihat begitu akrabnya Abang Rahman dengan Direktur Al-Birr. Percakapan mereka penuh canda dan kehangatan, seolah sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Tanpa kesulitan, saya diterima berkat rekomendasi dan usaha keras Abang Rahman. Bagi saya, itu adalah salah satu momen paling mengharukan, karena Abang Rahman benar-benar berjuang agar saya tidak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Beberapa bulan setelah mulai kuliah, barulah saya tahu alasan di balik keakraban Abang Rahman dengan Ustadz Lukman. Ternyata, Abang Rahman sendiri pernah kuliah di Al-Birr, meski dai tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya sebelumnya. Saya tahu dari dosen dan kakak tingkat di Asrama Ma’had Al-Birr. Saya hanya bisa tersenyum, terharu, dan semakin menghargai perjuangan serta pengorbanannya. Abang Rahman tidak hanya memberi saya kesempatan, tetapi juga menanamkan pelajaran penting bahwa kegigihan dan doa selalu membuka jalan, bahkan dalam situasi yang tampaknya mustahil.












