Abang Rahman, sosok yang telah menjadi kakak sekaligus orang tua kedua saya, (walaupun dia bukan saudara kandung saya) memandang kami dengan sorot mata tajam namun penuh kasih. Suasana sejenak hening. Saya bisa melihat kelelahan di wajah bapak dan mama, yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. Namun, saya juga merasakan keteguhan dan pengharapan yang tak pernah padam.
“Saya sudah dengar semua cemoohan,” Abang Rahman memulai dengan suara tegas, memecah keheningan. “Bahkan hinaan yang bukan datang dari orang lain, tapi dari keluarga dekat bapak dan ibu sendiri.”
Saya menundukkan kepala, hati saya menangis. Kalimat itu seperti angin yang membawa kembali ingatan akan komentar pedas dan penuh meremehkan yang sering kami dengar. Bahkan keluarga sendiri pun seolah meragukan kami, seolah tidak ada harapan untuk kami bermimpi lebih tinggi.
“Ah! Abusama dan Samia (Nama kedua orang tua saya) tidak akan mungkin menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi,” lanjut Abang Rahman, mengulangi ucapan sinis yang pernah didengar oleh Abang Rahman. “Makan sehari-hari saja salah-salah, apalagi mau kasih sekolah tinggi anak-anaknya.” Kata-kata itu menusuk, seperti mengiris keyakinan kami sedikit demi sedikit.
Namun, Abang Rahman tidak berhenti di situ. Dia menatap langsung ke arah mama dan bapak, lalu kepada saya, dengan sorot mata yang membakar semangat.
“Tapi dengar ini baik-baik,” katanya sambil mengepalkan tangan. “Kata-kata itu sudah saya dengar semua. Maka jangan dengar itu lagi! Tutup telinga, diam, dan istighfar. Allah SWT Maha Kuasa atas hamba-Nya. Mungkin bagi mereka yang berkata seperti itu tidak bisa, tapi kalau Allah SWT bilang bisa, mau apa?”
Suasana kamar mendadak sunyi. Kata-kata Abang Rahman itu seperti aliran air dingin yang menyejukkan hati kami yang panas oleh cemoohan dan hinaan. Mama dan bapak saling berpandangan, mata mereka berkaca-kaca. Saya pun tidak kuasa menahan haru. Bukan karena sakit hati atas hinaan yang disebutkan, tetapi karena kepercayaan besar yang Abang Rahman tanamkan pada kami. Kepercayaan bahwa Allah Maha Kuasa dan segalanya mungkin jika kita terus berusaha. “Kun fayakun”
Di saat banyak orang meragukan kami, di saat keluarga sendiri menjadi penghalang impian, Abang Rahman berdiri tegak. Dia tidak hanya membela kami, tetapi juga menunjukkan jalan keluar dari rasa putus asa. Dia menanamkan keyakinan bahwa hidup bukan soal komentar orang, tetapi soal bagaimana kita memandang perjuangan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT pencipta langit dan bumi beserta isinya dan tekad yang kuat.












