Menjelang keberangkatan jemaah asal Solo kembali ke Tanah Air, saya tidak sempat menyapa mereka. Nanti melalui telepon, salah satu keluarga yang ditemani anak gadisnya menyampaikan perasaan sangat menyayangkan tidak sempat bertemu dengan saya sebelum meninggalkan Jeddah. Ya, sekadar menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas jasa saya sudah menampingi selama sebulan di Tanah Suci.
Hingga kini, komunikasi dengan keluarga ini putus sama sekali. Mudah-mudahan mereka sehat walafiat dan selalu mengenang saat menunaikan ibadah haji tahun 1992, saat saya menemani mereka sejak tiba dan meninggalkan Jeddah.
Setelah jemaah kembali ke Indonesia, saya bergabung kembali dengan istri di salah satu hotel di Jeddah. Istri juga mendampingi dua anak panti asuhan dari Bulukumba yang dihajikan oleh Pak Ande. Ada juga Ibunda dari Mustari Ato yang selalu bersama istri.
Selama beberapa hari di Jeddah saya bisa melepaskan rindu sepuas hati dengan istri. Kecuali satu, sebab ‘hajjah’ baru ini, sedang itu…Ha..ha..
Selamat hari Raya Idul Adha. Maaf lahir dan batin. (*).











